DetikNews
Kamis 04 Mei 2017, 11:47 WIB

Kisah Mahasiswa Mengalahkan Profesor di Kompetisi Ide Gila

Niken Widya Yunita - detikNews
Kisah Mahasiswa Mengalahkan Profesor di Kompetisi Ide Gila Foto: Dok. President University
Jakarta - Dua mahasiswa yakni Annisa Nur Wahyuni dari Teknik Mesin dan Hiqmatus Sholichah dari Teknik Lingkungan patut berbangga. Keduanya berhasil mengalahkan profesor dalam sebuah kompetisi bisnis.

Annisa dan Hiqmatus merupakan mahasiswa dari Presiden Univesity semester dua. Mereka menjadi runner up untuk kategori Ide Bisnis dan Inovatif dalam kompetisi 'Pertamina Ide Gila Energy Competition 2017'. Kompetisi yang memperebutkan total hadiah Rp 500 juta ini merupakan sebuah kompetisi inovasi seputar ide bisnis, terobosan produk, dan penerapan teknologi dengan tema Energi Baru dan Terbarukan.

Kompetisi prestisius dan ekstra ketat tahun ini tersebut diikuti 6.300 peserta dengan 1.464 ide cemerlangnya. Pesertanya mulai dari dosen hingga profesor. Acara grand final digelar di Gedung Sarinah Ekosistem, Jakarta, pada (29/4/2017) lalu.

Juri tersebut yakni Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Prof Rhenald Kasali dan Sekretaris Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Dadan Kusdiana, dan Marketer of The Year 2016 Ahmad Bambang. Selain itu Executive Director Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) Erwin Widodo dan creative expert Yoris Sebastian.

Pencapaian Annisa dan Hiqmatus terbilang sangat luar biasa. Keduanya mampu menyisihkan peserta yang berstatus dosen hingga profesor. Sementara peraih juara 1 yakni Dr Chairul Hudaya dan Fadolly Ardin yang tercatat sebagai dosen/pengurus ikatan alumni UI (Iluni) Fakultas Teknik UI (FTUI). Sedangkan juara 3 diraih Aji Setiawan dan Raraz Hadiwiyanto yang merupakan karyawan swasta.

Annisa dan Hiqmatus terharu dan bersyukur atas capaian istimewa keduanya. Bahkan secara khusus mereka menghadirkan kedua orang tuanya dari Mojokerto yang ikut mendampingi dan mendoakan. Begitu juga yang dirasakan Dosen President University, Askar Triwiyanto, yang ikut mendampingi delegasi President University dalam ajang kompetisi tersebut.

Untuk ikut kompetisi, Annisa dan Hiqmatus telah lolos seleksi karena memiliki nilai rapor dengan rata-rata di atas 85 dan didukung dengan prestasi akademik serta non akademik lainnya.

Annisa pernah menjadi juara 1 Lomba Karya Ilmiah Remaja Tingkat Nasional 2015 di Institut Pertanian Bogor dan juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional Censor Festival 2016. Dia juga pernah lolos dalam beberapa tahap seleksi di kompetisi Line Follower Robotic 2016 dan internet of things.

Kolaborasi apik teknik mesin dan teknik lingkungan di acara perlombaan itu, tim President University mengangkat tema 'Inovasi Bisnis New Renewable Energy dengan Teknologi SGR (sludge gassification reactor) sebagai penghasil green energy di WWTP (waste water treatment plant) Jababeka'. Sebuah tema yang lahir dari dua pembimbing utama tema dari fakultas teknik yakni Temmy Wikaningrum dan Lydia Anggraini.

Kaprodi Teknik Mesin President University Lydia Anggraini menyampaikan, pihaknya sengaja memilih tema sludge gasification reactor. Sesuai dengan permasalahan yang dihadapi perusahaan di kawasan industri Jababeka yakni sludge. Dengan tema itu diharapkan dapat memberikan pemecahan masalah yang bisa diaplikasikan di tiap industri untuk menghasilkan energi baru dan terbarukan, di samping juga memiliki nilai ekonomis.

Lydia mengatakan, dalam menghadapi kompetisi, dia bersama Temmy Wikaningrum, memberikan proses bimbingan secara berkala. Kemudian mengajak survei lapangan ke WWTP Jababeka, hingga pembuatan prototipe yang dirancang sendiri dan didukung oleh program studi (prodi). Kolaborasi antar kedua prodi ini dapat terjalin karena motivasi untuk menyelesaikan berbagai masalah, salah satunya masalah lingkungan seperti limbah. Sementara untuk mengolah limbah tidak bisa hanya mengandalkan manajemen.

"Pasti dibutuhkan teknologi untuk mengatasinya. Juga pakar teknologi dari teknik mesin terkait penggunaan reaktor yang digunakan dalam kompetisi ini," kata Lidya, dalam keterangan tertulis, Kamis (4/5/2017).

Menurut Lidya, mental juara mahasiswa President University dibangun dengan sering mengikuti kompetisi yang sesuai minatnya di tingkat mana saja. Karena itu mereka terpacu untuk bersaing dan berprestasi.

Bahkan tidak hanya saat kompetisi tetapi juga di ruang kelas contohnya Annisa. Padahal mahasiswa teknik mesin mayoritas laki laki, apabila ada perempuan yang menjadi juaranya, pasti yang laki-laki juga tidak mau ketinggalan, sehingga memudahkan proses belajar mengajar bila kesadaran belajar dari mahasiswanya sudah tinggi.

Sementara itu Temmy Wikaningrum mengungkapkan, alasan pengambilan ide lomba yakni berdasarkan pengalamannya lebih dari 25 tahun mengelola limbah di kawasan industri. Produk lumpur yang dihasilkan tergolong bahan berbahaya dan beracun (lumpur B3). Diperlukan biaya lebih dari Rp 1 miliar per tahun untuk mengelolanya, belum termasuk dampak lingkungannya.

Hal ini memacu ide untuk mencari solusi atau bagaimana mereduksi dengan teknologi yang tepat, kelayakan ekonomi, serta tidak menimbulkan dampak lingkungan yang baru. Terlebih lagi bisa bermanfaat sebagai sumber green energy, karena lumpur B3 tersebut 60% zat organik (sumber karbon).

"Dalam persiapan kompetisi dari prodi teknik lingkungan membentuk tim pembimbing dosen yang sesuai bidang ilmu teknik lingkungan yaitu Rijal Hakiki. Sementara dari teknik mesin menunjuk Tetuko Kurniawan. Juga berkolaborasi dengan PT Jababeka Infrastruktur, dalam hal ini sebagai sampel studi kasus dibantu Susilo Tri Harsono selaku Manager WWTP PT Jababeka Infrastruktur," kata Temmy.



(nwy/ega)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed