"Ya, itu harus kita laporkan kepada pemerintah. Ini kan bukan koridor kita ya masalah nuklir ini. Tapi yang paling prinsip itu mereka benar-benar serius untuk bekerja sama dengan Indonesia," ujar pria yang akrab disapa OSO ini di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/5/2017).
OSO juga menawarkan banyak bidang kerja sama dengan Rusia. Ia mengatakan Indonesia mempunyai banyak tenaga kerja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena mereka menawarkan banyak hal, jadi kita juga menawarkan (kerja sama dengan Indonesia)," tambahnya.
OSO mengatakan, sebelumnya Indonesia-Rusia menjalin kerja sama di bidang perkeretaapian di Kalimantan Timur. Selain itu, diharapkan ada kerja sama di bidang energi.
"Yang sudah terjadi kereta api di Kalimantan Timur. Tapi jangan hanya kereta api, banyak lagi objek lainnya. Dalam bidang energi juga bisa dikembangkan dan buyer-nya mereka. Jadi itu yang kita tawarkan kepada mereka," pungkas OSO.
Sementara itu, Mikhail mengungkapkan apresiasi terhadap DPD atas dukungannya selama ini, terutama dalam kerja sama ekonomi dan pertahanan. Dibandingkan pada 2015, ada kenaikan sekitar 34 persen dalam perdagangan dengan Indonesia.
Mikhail juga menawarkan kerja sama di bidang pembangkit listrik tenaga nuklir, industri migas, bidang pertanian, wahana antariksa, serta pengembangan teknologi informasi.
"Rusia punya potensi besar untuk mengembangkan energi nuklir. Ke depan, sangat sulit kembangkan energi tanpa kembangkan energi nuklir. Kami sangat terbuka untuk mengembangkan kerja sama dengan Indonesia," ujar Mikhail. (lkw/ega)










































