"Saya lebih baik nggak komentar soal itu, itu politik tingkat tinggi. Saya fokus di Jakarta saja," kata Sandiaga di Jalan Melawai, Jakarta Selatan, Rabu (3/5/2017).
Sandiaga mengatakan hal tersebut terjadi pada sekitar medio bulan September 2016. Ia mengaku akan menjelaskan lebih lanjut melalui buku yang akan dia tulis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi nanti supaya meluruskan saya akan tulis buku, tapi jangan sekarang. Karena kita akan fokus di bagaimana rekonsiliasi ini bisa terbangun," ujarnya.Sebelumnya diberitakan, Ketua umum PAN sekaligus ketua MPR Zulfkifli Hasan bercerita soal majunya dua pasangan Pilgub DKI Jakarta, Agus Yudhoyono-Sylviana Murni dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Menurut Zulhas, awalnya tidak ada partai yang berminat mengusung Anies.
Saat itu, Demokrat, PAN, PKB, PPP, Gerindra, PKS memutar otak dan menyeleksi nama-nama untuk diusung bersama dan menantang Ahok-Djarot.
Ketum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono sempat menawarkan Agus, Ketum Gerindra Prabowo Subianto menyanggupi tawaran SBY, asalkan Sandiaga diusung sebagai calon gubernur. Sandiaga sempat menemui Zulkifli, dan menyatakan kesediaannya maju sebagai cawagub, tetapi ia menginginkan SBY bertemu Prabowo terlebih dahulu.
"Nah saya tahu kalau Pak Prabowo, Pak SBY ketemu mesti ada jaminan 5 tahun selesai. Kira-kira itu pak isinya. Sehingga tak jadi ketemu. Sudah putus AHY. Di sini ya udah Sandi sama Mardani. Jam 12 malam sampai jam 1 pagi itu ada intervensinya Pak JK. Saya kan suka terus terang. Pak JK boleh nggak ngaku, saya dengar kok telponnya. Pak JK lah yang meyakinkan sehingga berubahlah," kata Zulkifli pada Selasa (2/5). (fdu/imk)











































