Silaturahmi dengan para pegiat literasi inspiratif dan pengelola Taman Bacaan Masyarakat (TBM) ini, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional yang digelar di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Selasa (2/5/2017).
Mereka yang telah beraksi mengedarkan buku-buku ke penjuru daerah ini ingin agar harga buku lebih murah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagian dari mereka datang membawa serta alat untuk mengedarkan buku bacaan ke masyarakat. Ada yang membawa angkot dari Bandung, membawa pedati dari Cirebon, sepeda motor dari Lampung, hingga membawa noken dari Manokwari.
Foto: Danu Damarjati-detikcom |
Pesan-pesan yang menjadi aspirasi mereka adalah sebagai berikut. Pertama, mereka tidak percaya minat membaca masyarakat Indonesia rendah. Yang ada hanyalah minimnya ketersediaan akses kepada buku.
"Maka kami berharap agar pemerintah mengoptimalkan ketersediaan dan akses buku yang merata sampai ke desa-desa dan daerah terpencil," ujar Firman.
Kedua, mereka ingin agar gerakan pembangkitan minat baca menjadi gerakan yang masif. Maka pemerintah harus mendukung upaya ini.
"Kami mendorong Presiden untuk mengeluarkan sebuah Instruksi Presiden (Inpres) terkait literasi agar pemerintah pusat dan pemerintah daerah, termasuk pemerintah/aparat desa, berperan serta aktif dalam mendukung dan mengembangkan gerakan literasi serta bersinergi dengan para pengelola TBM dan pegiat literasi di setiap daerah," tuturnya.
Foto: Danu Damarjati-detikcom |
Ketiga, Forum TBM dan pegiat literasi juga mendorong agar pemerintah mengeluarkan aturan demi terjangkaunya harga buku di daerah-daerah.
"Mendorong pemerintah untuk mengeluarkan regulasi khusus yang memungkinkan agar harga buku bisa menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat luas," kata dia.
Caranya dengan penghapusan pajak untuk komponen-komponen yang terkait dengan buku serta regulasi khusus untuk biaya pengiriman buku hingga ke daerah-daerah. Juga upaya untuk mendirikan totko-toko buku kecil di daerah-daerah.
Keempat, pemerintah perlu mendorong penerbitan buku-buku tentang budi pekerti dan nilai integritas demi membangun karakter generasi muda.
Kelima, pemerintah diminta mengoptimalkan layanan perpustakaan dan pusat layanan pengetahuan masyarakat di ruang publik.
"Mendorong BUMN dan perusahaan-perusahaan swasta mengalokasikan dana CSR untuk pengembangan konten program literasi dan pengadaan buku bagi Taman Bacaan Masyarakat dan Perpustakaan Sekolah di Tanah Air," tuturnya menyebut poin keenam.
Ketujuh, mereka mendorong perusahaan penerbitan buku untuk mendonasikan buku kepada TBM dan komunitas literasi. Donasi buku ini harus dijadikan faktor pengurang pajak perusahaan penerbit.
Foto: Danu Damarjati-detikcom |
Kedelapan, presiden diminta memberi penghargaan kepada pemerintah daerah yang berupaya mengembangkan gerakan literasi di daerahnya secara berkelanjutan.
Jokowi menyambut baik mereka. Menurutnya minat baca memang harus ditingkatkan. Jokowi usul agar istilah yang mereka gunakan bisa dibuat mudah. Misalnya 'literasi' diganti dengan terminologi yang lebih familiar di telinga orang awam.
"Pegiat literasi, yang gampangnya ini apa ya? Literasi itu apa ya?Pegiat minat baca, kata yang lebih sederhana, begitu saja," tutur Jokowi dalam pertemuan dengan para aktivis itu. (dnu/fdn)












































Foto: Danu Damarjati-detikcom
Foto: Danu Damarjati-detikcom
Foto: Danu Damarjati-detikcom