Ini Kajian MUI soal Hukum Konsumsi Daging Katak

Fajar Pratama - detikNews
Selasa, 02 Mei 2017 12:50 WIB
Foto: dok. Internet
Jakarta -

Penemuan katak raksasa dengan berat 1,5 kg di Enrekang, Sulawesi Selatan, tengah menjadi perbincangan. Katak serupa biasa dikonsumsi oleh sebagian penduduk setempat. MUI pernah melakukan kajian mengenai hukum mengkonsumsi daging katak. Apa hasilnya?

"Terkait katak atau kodok dan ada beberapa jenis lain, MUI secara khusus pernah melakukan pengkajian," kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Ni'am dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (2/5/2017).

Baca Juga: Daging Katak Raksasa di Enrekang Biasa Dikonsumsi dengan Tuak

Ni'am mengatakan binatang yang hidup di dua alam haram dikonsumsi, sekalipun binatang itu suci dan bisa dikembangbiakkan.

"Para ulama beda pendapat. Tapi jumhur (mayoritas ulama) menyatakan itu terlarang. Tapi MUI juga mengakui ada mazhab yang menyatakan daging katak atau kodok bisa dikonsumsi," kata Ni'am.

Lalu apa kesimpulan dari kajian MUI tersebut? Ni'am mengatakan MUI mengimbau agar daging katak sebaiknya dihindari untuk dikonsumsi mengingat adanya perbedaan pandangan para ulama.

"Fatwanya sudah ada. Mengimbau untuk memilih makanan konsumsi yang aman secara kesehatan dan keluar dari perbedaan pandangan fuqoha (ahli fikih). Kalau bisa dihindari, ya dihindari. Begitu, ya. Karena terjadi perbedaan pandangan di kalangan ulama," kata Ni'am.

Kajian MUI itu juga menyimpulkan hal lain di samping soal konsumsi, yakni pengembangbiakan katak. Untuk poin kedua ini, MUI memberikan lampu hijau sepenuhnya.

"Membudidayakan untuk kepentingan nonkonsumsi, seperti untuk menggemburkan tanah dan lain-lain, itu diperkenankan," ujarnya. (fjp/idh)