Singapura Bantah Kejar Kapal yang Ditumpangi 3 Menteri RI

Singapura Bantah Kejar Kapal yang Ditumpangi 3 Menteri RI

- detikNews
Selasa, 26 Apr 2005 11:59 WIB
Jakarta - Pemerintah Singapura menyangkal telah mengejar kapal yang ditumpangi tiga menteri Indonesia pada 17 April lalu saat meninjau perairan Selat Malaka."Kami akui bahwa patroli polisi Singapura sering mengadakan patroli di perairan Singapura. Namun, belum pernah terjadi dimana kapal yang mengangkut 3 Menteri Indonesia itu dikejar oleh Kapal patrol Polisi Singapura," tandas Sekretaris I (Politik) Kedutaan Besar Singapura di Jakarta Adrian Chung pada detikcom, Selasa (26/4/2005)."Begitu juga tidak pernah terjadin kontak atau interaksi antara kapal Indonesia tersebut dengan kapal Patroli Singapura," sambung Adrian Chung.Bantahan Chung terkait pemberitaan detikcom pada 17 April silam yang menyatakan kapal rombongan tiga menteri Kabinet Indonesia Bersatu dikejar patroli Singapura. Pengejaran terjadi ketika kapal rombongan hampir melewati perbatasan Indonesia-Singapura.Di kapal tersebut, ada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro, Menteri Negara BUMN Soegiharto, Menteri Perhubungan Hatta Rajasa serta Dirut Pertamina Widya Purnama. Rombongan menggunakan Kapal Navigasi (KN) Jadayat untuk meninjau lalu lintas Selat Malaka.Kejadian bermula ketika KN Jadayat sedikit melewati garis batas perairan perbatasan Indonesia-Singapura di titik terluar wilayah Indonesia, yakni Pulau Nipah. Pengejaran ini terjadi sekitar pukul 11.30 WIB.Akhirnya, KN Jadayat yang berangkat dari Pulau Batam ini diikuti oleh kapal patroli Singapura. Kejadian ini tidak berlangsung lama. Kecepatan KN Jadayat pun tidak terlampau tinggi yakni 18 knot."Tadi kita lihat sedikit saja kita lewat garis (batas Indonesia-Singapura), patroli Singapura sudah mengejar kita," tutur Menteri Perhubungan Hatta Rajasa dalam konferensi persnya di dalam KN Jadayat di Selat Malaka.Hatta mengingatkan, pihak Singapura sudah mengejar rombongan Indonesia ketika hanya melewati sedikit garis perbatasan. Kejadian ini akan dijadikan pelajaran untuk menjaga keamanan wilayah Indonesia lebih intensif. (nrl/)


Berita Terkait