DetikNews
2017/05/01 13:55:38 WIB

Aktivis Buruh: Jadi Martir, Menteri, hingga Presiden

Sudrajat, Registra Arrizky - detikNews
Halaman 1 dari 3
Aktivis Buruh: Jadi Martir, Menteri, hingga Presiden Ilustrasi (Cici Marlina Rahayu/detikcom)
Jakarta - Setiap gerakan melahirkan pahlawan sendiri. Begitu juga dalam dunia pergerakan buruh. Di Tanah Air, gerakan buruh sudah dikenal sejak penjajah Belanda masih menguasai wilayah Nusantara. Salah satu tokohnya kala itu adalah Semaun. Lalu di awal kemerdekaan ada nama SK Trimurti, serta Marsinah, yang menjadi martir di era Orde Baru.

Di luar negeri, organisasi buruh demikian kuat. Di sejumlah negara, mereka membentuk partai politik dan berhasil menjadi partai penguasa. Meski gagal meraih kursi di parlemen, Muchtar Pakpahan pernah mencoba mentransformasikan organisasi buruh yang dipimpinnya menjadi partai politik.

Berikut ini perjalanan sejumlah aktivis buruh yang kiprahnya menjadi catatan sejarah yang dihimpun detikcom dari berbagai sumber.

Marsinah

Ahli forensik dr Mun'im Idries, dalam buku 'Indonesia X-Files' (2013), menyimpulkan kematian Marsinah akibat luka tembak. Selain itu, buruh perempuan asal Sidoarja itu mengalami penyiksaan yang dahsyat, termasuk di bagian tubuh yang sangat pribadi.

"Kerusakan sedemikian hebat, padahal pangkal kerusakan itu dimulai dari labia minora kiri. Sebagai saksi ahli, saya berpendapat, kematian Marsinah akibat luka tembak," tulis Mun'im.

Toh begitu, kasus kematian aktivis buruh Marsinah hingga kini masih menjadi misteri. Dia menjadi martir pergerakan buruh di era Orde Baru.

Kasus bermula dari sikap PT Catur Putera Surya (CPS) yang mengabaikan Surat Edaran Gubernur Jawa Timur No. 50 Tahun 1992 untuk menaikkan upah buruh. Marsinah bergerak bersama rekan-rekannya sesama buruh di pabrik itu pada 3 dan 4 Mei 1993 untuk menuntut kenaikan upah dari Rp 1.700 menjadi Rp 2.250.

Buntutnya, 13 aktivis digiring ke kantor Kodim Sidoarjo. Mereka dituduh melakukan penghasutan. Marsinah menyusul mendatangi Kodim untuk menengok nasib rekan-rekannya. Tapi perempuan 24 tahun itu kemudian tak pernah kembali. Selang beberapa hari kemudian, jasadnya ditemukan di tengah hutan di Dusun Jegong, Kecamatan Wilangan, Nganjuk, dalam kondisi amat mengenaskan.

Selain luka memar di bagian leher dan kedua lengan dan kakinya akibat benturan benda keras, diduga Marsinah diperkosa sebelum dibunuh. Meski begitu, hingga sekarang pelaku pembunuhan tak terungkap. Para terdakwa yang pernah divonis dibebaskan MA pada 29 April 1995.

Marsinah memperoleh penghargaan Yap Thiam Hien pada 1993. Kasus ini pun menjadi catatan Organisasi Buruh Internasional (ILO), yang dikenal sebagai kasus '1713'.

Tapi tak tak semua aktivis buruh bernasib buruk seperti Marsinah. Di Brasil dan Polandia, ada Luiz Inacio Lula Da Silva dan Lech Walesa, yang menggapai puncak karier sebagai pemimpin negeri: Presiden!

Di Tanah Air, kita mengenal nama SK Trimurti dan Jacob Nuwa Wea, yang pernah menjadi menteri. Juga ada Muchtar Pakpahan, yang mencoba mentransformasikan serikat buruh yang dipimpinnya menjadi partai politik. Sayang, Pakpahan tak semujur Walesa ataupun Da Silva.
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed