Pantauan di lokasi, Hanif yang memakai kaos putih dan celana jeans biru dipadukan sepatu sneakers, tiba pada Senin (1/5/2017) sekitar pukul 10.15 WIB. Dia tiba ditemani keluarganya dan langsung disambut ajakan berfoto oleh para buruh.
Menaker Hanif Dhakiri saat Hari Buruh di GBK / Foto: Gibran Maulana Ibrahim/detikcom |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bukan demo nggak boleh, jangan istilahnya, jangan sampai kelebihan karena keseringan demo membuat orang mual-mual, jangan bertumpu mulu pada itu," kata Hanif yang disambut tawa sebagian massa.
"Saya ingin mendorong Serikat buruh dan serikat pekerja lebih kuat di perusahaan. Faktanya pekerja kita yang menjadi anggota serikat itu menurun drastis. Dari 3,4 juta 2007 sekarang cuma 2,7 juta yang menjadi serikat buruh. Saya dengar di media ada yang bilang, 'kita akan turunkan 5 juta buruh'. 5 juta dari Hong Kong. Yang terdata aja hanya 2,7 juta kok," sambungnya yang diikuti tawa lagi.
Hanif berkata, maksud ucapannya agar faktor ini menjadi perhatian semua pemangku kepentingan. Dia ingin makin banyak buruh yang berserikat.
"Maksud saya ini harus menjadi PR bagi kita semua agar makin banyak buruh yang berserikat. Makin banyak gerakan buruh berhasil," tuturnya.
Ke depan, dalam memperingati May Day, Hanif ingin aksi ini mempunyai daya tarik di bidang pariwisata. Ini agar aspirasi buruh lebih didengar publik.
"Tahun depan, perayaan May Day kita harap persiapannya dari tahun ini untuk merayakan May Day dengan cara lebih menarik bagaiaman tarik pariwisata. Yang penting, kalau menarik dari sisi pariwisata akan ada orang datang menonton, Anda semua bisa berkampanye, menyampaikan pesan. Kalau sekarang buruh demo orang pergi mau sampaikan ke siapa? Burung yang beterbangan," jelasnya kepada buruh yang kemudian tertawa.
"Kalau kita kemas menarik, kita harapkan orang berbagai daerah datang ke pusat kota ,riang gembira dan saya harap reputasi buruh makin cakep," tutupnya.
(gbr/imk)












































Menaker Hanif Dhakiri saat Hari Buruh di GBK / Foto: Gibran Maulana Ibrahim/detikcom