Unsur Indonesia yang dimaksud di sini adalah Bahasa. Bahasa Indonesia memang bukan bahasa resmi Timor Leste, yakni Bahasa Portugis dan Tetun. Namun Bahasa Indonesia masih bertahan di benak Brigida melalui siaran-siaran stasiun televisi yang berbasis di Jakarta.
"Kami menonton siaran TV dari Indonesia, makanya kami bisa Bahasa Indonesia. Dikit-dikit belajar dari TV kan," kata perempuan usia 23 tahun ini di Pos Perbatasan Terpadu negaranya, Batugade, Bobonaro, Timor Leste, Minggu (2/4/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di Dili juga masih ada acara TV Indonesia. Ya jauh memang, tapi dapat ditangkap. Pakai parabola biasa saja," tutur Brigida.
Acara televisi favoritnya adalah reality show bertema pencarian jodoh yang ditayangkan stasiun televisi swasta. "Masa tidak pernah nonton sih?" tanyanya kepada saya.
Perempuan murah senyum berambut keriting ini berbicara dengan Bahasa Indonesia tanpa terbata-bata. Logatnya juga mudah dipahami oleh orang Indonesia.
Dia sendiri tinggal di Batugade yang merupakan kawasan perbatasan. Interaksi dengan orang-orang Indonesia juga sering dia lakukan, karena dia sudah setahun bekerja di toko bebas pajak (duty free) Pos Perbatasan Timor Leste ini
"Yang beli di duty free kebanyakan orang Indonesia, beli minuman. Barangkali karena di sana (di luar Pos Perbatasan) terlalu mahal," kata dia.
Di toko yang dijaganya itu, dijual beraneka jenis minuman keras. Semuanya dipatok dengan harga Dolar Amerika Serikat (USD). Toko ini tak menerima mata uang Rupiah.
Ikuti artikel-artikel Tapal Batas detikcom selengkapnya di tapalbatas.detik.com! (dnu/tor)











































