Suara Warga dan Ulama soal Kemacetan dan Sistem Satu Arah di Puncak

Suara Warga dan Ulama soal Kemacetan dan Sistem Satu Arah di Puncak

Farhan - detikNews
Sabtu, 29 Apr 2017 17:16 WIB
Suara Warga dan Ulama soal Kemacetan dan Sistem Satu Arah di Puncak
Foto: Farhan/detikcom
Kabupaten Bogor - Sekelompok massa yang mengatasnamakan sebagai ulama, santri dan masyarakat Puncak, Bogor melakukan doa dan zikir bersama di lokasi tabrakan beruntun di Tanjakan Selarong, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Sabtu (29/4/2017). Usai melakukan doa dan zikir bersama, massa kemudian melakukan orasi untuk menolak sistem one way (Satu arah) yang selama ini digunakan polisi sebagai solusi macet di jalur Puncak.

Warga menyebut, sistem one way yang dilakukan selama ini justru merugikan masyarakat Puncak secara umum.

"Kegiatan ini, pertama tujuan kita adalah mendoakan para korban kecelakaan minggu lalu. Kemudian tujuan keduanya adalah kami menuntut agar memberikan solusi terbaik untuk jalur Puncak ini. Kami menolak one way, tapi kami akan bijaksana, kami akan mendukung one way kalau ada kebijakan lain yang tidak merugikan masyarakat," kata Hasan, salah satu peserta doa dan zikir saat ditemui di lokasi, Sabtu (29/4/2017) sore.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Muhamad Muchsin, koordinator aksi mengatakan, aksi ini merupakan aksi spontanitas masyarakat Puncak yang menginginkan keseimbangan atas kebijakan sistem one way yang selama ini digunakan pihak kepolisian sebagai pengurai kemacetan jalur Puncak.

"Kami juga punya hak, kami ingin keseimbangan. Polisi punya hak, pengusaha punya hak, semua punya hak, tapi kami ingin keseimbangan. Kami tekankan kepada pemerintah baik pusat maupun daerah agar membangun jalur-jalur alternatif di selatan dan utara Puncak. Kami ingin pemerintah lebih fokus kepada masyarakat Puncak," katanya.

"Kerugian yang kami alami selama one way ini bentuk materi dan non materi. Banyak kegiatan yang tertunda dan terganggu karena one way. Belum lagi kalau ada masyarakat yang sakit atau melahirkan, semua terganggu karena one way. Pedagang kecil juga terganggu, karena ketika one way, pengendara melaju kencang dan enggan berhenti untuk belanja," imbuhnya.

Suara Warga dan Ulama soal Kemacetan dan Kebijakan Satu Arah di PuncakFoto: Farhan/detikcom

Dalam aksi tersebut, warga juga menyebut ada 18 tuntutan yang ditujukan kepada Pemkab Bogor, Pemprov Jawa Barat, pihak kementerian, dan Kapolres Bogor. Dalam tuntutannya, warga puncak meminta agar kebijakan sistem one way dikaji kembali, petugas juga diminta dengan tegas memeriksa kelaikan bus-bus yang akan melintas ke kawasan Puncak termasuk pembatasan usia bus yang menuju Puncak. "Kami juga meminta kepada polisi agar pengawalan yang dilakukan pihak kepolisian harus sesuai SOP," kata Muhamad Muchsin disela aksi.

Aksi damai menolak kebijakan sistem one way ini dilakukan warga sekitar pukul 13:30 WIB. Dihadiri puluhan orang, aksi diawali dengan prosesi tabur bunga di tanjakan selarong yang menjadi lokasi kecelakaan maut yang terjadi akhir pekan lalu. Selanjutnya, dipimpin para ulama, para santri dan warga melakukan doa dan zikir bersama di pinggir tanjakan Selarong. Aksi ini tak pelak membuat arus lalulintas mengalami kemacetan karena banyak pengendara memilih mengurangi laju kendaraannya untuk melihat proses aksi yang dilakukan warga puncak. Kemacetan nampak mengular baik dari arah Puncak menuju Jakarta maupun sebaliknya. Puluhan petugas kepolisian yang dibantu warga juga bersiaga di lokasi untuk mengamankan aksi dan mengatur arus lalulintas.

Sekitar pukul 15:00 WIB, aksi tolak one way yang diiringi doa dan zikir pun selesai. Warga membubarkan diri dari lokasi. Tak lama kemudian, pihak Satlantas kembali memberlakukan sistem one way sebagai upaya mengurai kemacetan. Hingga pukul 16:00 WIB, polisi masih memberlakukan one way untuk kendaraan dari arah Puncak menuju Jakarta. (try/try)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads