Tradisi Seba dan Prinsip Suku Baduy Jaga Keseimbangan Alam

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Sabtu, 29 Apr 2017 12:57 WIB
Foto: Bahtiar Rifai/detikcom
Lebak - Ada sepenggal potongan peribahasa dalam suku Baduy yang isinya berupa pesan melestarikan alam. Bunyinya kira-kira;

"Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak."

Peribahasa ini kira-kira memiliki arti 'gunung tidak boleh dihancurkan, dan lembah tidak boleh dirusak'. Pesan inilah yang kemudian kental dalam adat suku Baduy sebagai suku yang menjaga alam di tanah Banten. Selama ratusan tahun, mereka hidup di pedalaman Desa Kanekes. Hidup berjauhan dengan modernitas untuk melestarikan alam.

Tokoh adat suku Baduy Dalam, Ayah Mursyid, bercerita cara menjaga alam. Hutan, gunung, lembah beserta isinya menjadi paru-paru alam. Bagi suku Baduy, menjaga alam dijadikan prinsip tiap orang di Baduy.

Selain itu, ada pembagian mana alam hutan yang bisa digunakan sebagai garapan, mana hutan sebagai 'paniisan' (hutan yang menjadi sumber air), dan mana hutan larangan.

"Kami Baduy punya prinsip dan ada tugas untuk menjaga melestarikan keseimbangan-keseimbangan alam, terutama hutan. Ada riwayat kami hutan harus dijadikan hutan, harus dijaga bukan untuk garapan, ada hutan yang memang sudah disiapkan untuk lahan," kata Ayah Mursyid kepada detikcom, Kabupaten Lebak, Sabtu (29/4/2017).

Namun, menurut Ayah Mursyid, tanggung jawab menjaga alam seharusnya juga menjadi kesadaran pemerintah. Sebab, secara batiniah, hutan menjadi paru-paru bumi. Dan bilamana dirusak, alam akan marah lewat segala bencana.

"Kami Baduy punya aturan-aturan titipan amanah menjalankan tugas itu. Salah satunya biasanya disambung, diingatkan, disampaikan ka pamarentah (ke pemerintah), secara adat punya titipan seperti ini," ucapnya. Pesan inilah yang kemudian disampaikan saat melakukan Seba setiap tahun.

Aturan ketat menjaga alam dan hutan itu kemudian memiliki batasan mana yang bisa digunakan sebagai pertanian, mana yang dilindungi dan sama sekali dilarang digunakan, bahkan untuk dilewati.

Di hutan lindung, di situ tidak boleh ada permukiman. Meskipun untuk Baduy Dalam. Pemanfaatan seperti buah-buahan diatur oleh adat dan harus berdasarkan izin dari sesepuh adat.

Tradisi Seba Suku Baduy dan Prinsip Keseimbangan AlamFoto: Bahtiar Rifai/detikcom

Sedangkan untuk hutan larangan, Ayah Mursyid mengatakan di lokasi tersebut dilarang bagi siapa pun untuk datang. Petugas pemerintah pun, menurutnya, tidak bisa memasuki hutan tersebut.

"Disebut hutan lindung karena mengatakan bahwa itu bahasa Sunda-nya leuwung lindungan bukan untuk lahan. Di dalam itu ada titik yang sama sekali disebut hutan larangan. Beda dengan hutan biasa. Kalau hutan saja bisa lewati, dikunjungi, oleh patugas. Kalau larangan, meskipun ada patugas di sana, itu ada aturan," katanya lagi.

Saat ini, luas tanah ulayat suku Baduy kurang-lebih 5.136,8 hektare. Dari total tersebut, 3.000 hektare terdiri dari hutan lindung dan hutan larangan yang sama sekali tidak bisa digarap, bahkan untuk permukiman.

Karena keterbatasan lahan, menurut Ayah Mursyid, saat ini warga suku Baduy banyak yang bertani dengan cara menyewa lahan di luar Desa Kanekes. Apalagi populasi suku baduy sebagai penjaga kelestarian hutan sekarang sudah mencapai 11.699 jiwa. (bri/try)