Namun lain ceritanya bagi Boisman Gori. Siswa kelas 4 SDN Puncak Lolomatua, Desa Puncak, Kecamatan Ulutoyo, Kabupaten Nias Selatan. Sambil bersekolah, dia turut membawa serta sang adik yang baru berumur 2 tahun.
Boisman Gori menggendong adiknya (Foto: Istimewa/dokumen pribadi Indri Rosidah) |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indri yang merupakan guru dari SM-3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal), merasa terenyuh saat melihat Boisman yang begitu sabar mengasuh adiknya.
"Setiap hari dia bawa adiknya ke sekolah. Lalu saya tanya kenapa. Ternyata ibu dan bapaknya bekerja di ladang. Jadi tidak ada yang mengasuh adiknya di rumah. Sempat saya bertemu dengan orang tua Boisman dan mereka meminta maaf kalau memang di kelas jadi ramai karena membawa adiknya," kata Indri saat berbincang dengan detikcom, Jumat (28/4/2017).
Indri Rosidah berfoto bersama siswa-siswanya (Foto: Istimewa/dokumen pribadi Indri Rosidah) |
Saat mengasuh adiknya di sekolah, Indri menceritakan, tak lupa Boisman membawa kebutuhan yang diperlukan oleh sang adik.
"Dia biasanya bawa kresek hitam. Isinya ada makanan dan celana untuk adiknya," kata Indri.
Indri mengungkapkan, kondisi belajar mengajar di dalam kelas tetap berjalan dengan kondusif meski Boisman membawa adiknya. Malahan sesekali Indri terhibur dengan tingkah laku dari adik Boisman itu.
"Lucu anaknya. Pernah niru-niru ucapan saya saat mengajar. Adiknya nggak rewel dan anteng di kelas. Biasanya kalau sudah tertidur, dia akan digendong," ucap Indri. (nkn/dhn)












































Boisman Gori menggendong adiknya (Foto: Istimewa/dokumen pribadi Indri Rosidah)
Indri Rosidah berfoto bersama siswa-siswanya (Foto: Istimewa/dokumen pribadi Indri Rosidah)