Pria yang Mengaku Dibawa ke Kamp Teroris Ternyata Berbohong

Pria yang Mengaku Dibawa ke Kamp Teroris Ternyata Berbohong

Bartanius Dony - detikNews
Jumat, 28 Apr 2017 20:10 WIB
Pria yang Mengaku Dibawa ke Kamp Teroris Ternyata Berbohong
Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul (Grandyos Zafna/detikcom)
Jakarta - Seorang pria berinisial YO mendatangi Mapolres Jakarta Barat dan mengaku telah diculik ke kamp pelatihan teroris di Salatiga, Jawa Tengah. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata dia berbohong dan kabur dari rumah. Dia kehabisan uang setelah mengunjungi kekasihnya di Karawang, Jawa Barat.

"Hasil pemeriksaan (psikologis) dia normal, tapi dia berbohong. Karena ternyata dia kabur dari rumahnya, terus punya pacar di daerah Karawang, kehabisan uang," kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul saat dihubungi detikcom, Jumat (28/4/2017).

Setelah kehabisan uang, YO mendatangi Mapolres Jakarta Barat dengan keadaan linglung dan lapar pada hari Rabu (26/4). YO kemudian diberi makan oleh petugas piket dan dimintai keterangan pada pukul 10.00 WIB. Dia mengaku telah diculik kelompok teroris dan dibawa ke kamp pelatihan di daerah Salatiga, Jawa Tengah. Mendengar pengakuan YO, anggota Polres Jakarta Barat berkoordinasi dengan Densus 88 Antiteror.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Martinus menjelaskan, YO bisa berkata-kata seperti itu karena sering membaca tentang tempat dan kondisi di kamp pelatihan militer kelompok teroris. Menurut Martinus, belum ada indikasi bahwa di Pulau Jawa terdapat tempat pelatihan teroris.

Orang tua YO pun telah dipanggil oleh kepolisian dan sudah datang ke Mapolres Jakarta Barat. Meski telah membohongi petugas, YO tidak diproses secara hukum, melainkan dipulangkan ke kampung halamannya di Rangkasbitung, Banten.

"Nggak (diproses hukum), dipulangkan saja. Orang tuanya sudah datang, mau kita pulangkan," jelas Martinus.

Sejauh ini, menurut penjelasan Martinus, belum pernah ada motif penculikan oleh kelompok teroris yang kemudian dibawa ke kamp pelatihan. Mereka yang menjadi anggota kelompok teroris adalah memang simpatisan dan didoktrin menggunakan ajaran-ajaran radikal.

"Belum ada (penculikan oleh kelompok teror), itu kan melalui doktrinasi. Itu ya biasanya memang sudah bagian dari pengikutnya," pungkasnya. (brt/erd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads