PLN Realisasikan Interkoneksi Jaringan Sumatera-Jawa-Bali, 2007

PLN Realisasikan Interkoneksi Jaringan Sumatera-Jawa-Bali, 2007

- detikNews
Selasa, 26 Apr 2005 00:20 WIB
Padang - Krisis listrik di Sumatera bakal berakhir. Ini setelah Perusahaan Listrik Negara (PLN) merealisasikan interkoneksi jaringan listrik Sumatera dengan Jawa-Bali pada 2007 mendatang. Selanjutnya interkoneksi jaringan Sumatera dengan Semenanjung Malaysia pada 2008. Rencana ini disampaikan Direktur Utama PT PLN (Persero), Eddie Widiono S, kepada wartawan usai meresmikan beroperasinya PLN P3B di Padang, Jl. S Parman, Senin (25/4/2005). Menurutnya, interkoneksi jaringan listrik tersebut akan dilaksanakan seiring ditetapkannya Sumatera sebagai lumbung energi nasional."Bila interkoneksi jaringan listrik Sumatera dengan Jawa-Bali terealisasi, kapasitas unit pembangkit listrik di Sumatera meningkat dari rata-rata 100 MW menjadi sekitar 600 MW. Interkoneksi ini merupakan konsekwensi dari realisasi rencana PLN untuk membangun pembangkit listrik berkapasitas besar," ujarnya.Dikatakan Eddie, pihaknya berencana membangun pembangkit listrik berkapasitas besar sekaligus murah. Untuk itu, PLN sudah menjalin kerja sama dengan PT Bukit Asam untuk membangun pembangkit listrik baru berkapasitas 4x600 MW di Sumatera yang harganya ditargetkan 3,5 sen/ KWH atau jauh lebih murah dari harga listrik energi batubara saat ini sekitar Rp465/KWh."Pelanggan PLN di Sumatera terus meningkat sehingga meningkatkan beban kapasitas. Saat ini, pelanggan di Sumatra mencapai 6 juta atau sekitar 18 persen dari pelanggan nasional sebesar 33 juta. Kita akan bangun pembangkit di mulut tambang batubara yang memiliki kalori rendah dan batubara itu diproses dengan sistem gasifikasi," terangnya.Lebih lanjut, Eddie mengatakan, kondisi listrik di Sumatera saat ini sangat rawan dari gangguan karena kondisi kapasitas terpasang dengan beban puncak sangat pas-pasan. Jika tidak dirawat, PLN terpaksa melakukan pemadaman bergilir."Kita sudah upayakan terpenuhinya pasokan listrik pada musim kemarau yang menyebabkan PLTA tidak bisa berproduksi sehingga meminimalisir pemadaman baik dari jumlah MW maupun lamanya," demikian Eddie Widiono S. (gtp/)


Berita Terkait