Mahyudin menyampaikan hal itu saat sosialisasi Empat Pilar MPR di Gedung KONI Provinsi Kalimantan Tengah di Palangka Raya, Kamis (27/4/2017). Sosialisasi yang diselenggarakan bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah Palangka Raya ini diikuti 400 peserta dari pengurus BEM se Kalimantan Tengah.
Mahyudin mengingatkan bahwa selama 72 tahun Indonesia merdeka, Indonesia tak pernah sepi dari rongrongan. Dulu ada gerakan Permesta, DI/TII, RMS di Maluku, Gerakan Aceh Merdeka dan puncaknya gerakan untuk mengganti ideologi negara Pancasila, yaitu G 30 S/ PKl.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walau pun terus-menerus mendapat rongrongan, tapi ideologi Pancasila yang digali dari nilai-nilai budaya bangsa Indonesia ini tetap bertahan. Menurut Mahyudin, Bung Karno, presiden pertama Indonesia, pernah menawarkan Pancasila menjadi ideologi dunia. Karena, Pancasila dianggap ideologi jalan tengah yang mampu mempersatukan bangsa.
"Jadi, Pancasila itu adalah alat perekat kita. Pancasila untuk menangkal paham-paham yang ingin memecah belah Indonesia atau paham-paham yang ingin mengganti ideologi bangsa kita," jelasnya.
Selain itu pengaruh globalisasi juga menjadi menyebab nilai-nilai yang ada di masyarakat menjadi luntur. Dulu budaya gotong royong mewarnai masyarakat Indonesia, karena pengaruh budaya luar berubah menjadi individualis. Akibat globalisasi ini, kata Mahyudin, semua dianggap modern, padahal itu kadang tidak sesuai dengan budaya Indonesia.
"Alhamdulillah ideologi kita lulus dari ujian. Buktinya, kita masih utuh sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kalau gagal menghadapi ujian itu maka kita sudah bercerai berai," kata Mahyudin.
Hadir dalam acara sosialisasi ini anggota MPR dapil Kalimantan Tengah Agati Suli Mahyudin, anggota MPR Fraksi PAN Hang Ali, Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Dr. H. Supardi dan pejabat mewakili Gubernur Kalteng, Kepala Kesbangpol, Drs. Berlin Swal. (ega/rvk)










































