DetikNews
Kamis 27 April 2017, 17:53 WIB

Polri: Penembakan di Sumsel dan Bengkulu karena Lalai Ikuti SOP

Bartanius Dony - detikNews
Polri: Penembakan di Sumsel dan Bengkulu karena Lalai Ikuti SOP Diskusi penggunaan senjata api oleh anggota Polri. (Dony/detikcom)
Jakarta - Kasus salah tembak oleh anggota Polri menjadi sorotan belakangan ini. Seperti aksi koboi di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, dan yang terbaru adalah polisi yang salah menembak anak kandungnya sendiri hingga tewas.

Kepala Biro Pengamanan Internal (Karo Paminal) Divisi Propam Polri Brigjen Baharuddin Djafar menilai dua kasus itu adalah contoh dari kelalaian dalam mengikuti standard operating procedure (SOP).

"Dari aspek Paminal, masih terlihat adanya kelalaian, nggak mengikuti prosedur yang harusnya dilakukan," kata Baharuddin dalam sebuah diskusi bertema 'Penggunaan Senjata Api oleh Polri' di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (27/4/2017).

Baharuddin menjelaskan anggota Polri memang memiliki kewenangan diskresi. Jika penggunaan diskresi itu kurang tepat, bisa berakibat fatal.

Dengan adanya dua kejadian itu, Baharuddin mengatakan akan melakukan tes psikologi secara berkala kepada seluruh anggota Polri. Dengan dilakukannya tes psikologi secara rutin, dia berharap tidak ada lagi kejadian seperti di Lubuklinggau dan Bengkulu.

"Kewenangan diskresi harus pandai mengukur sampai mana. Kalau diskresi dia salah, akibatnya ditanggung sendiri," imbuhnya.

Menurut Baharuddin, sosialisasi mengenai aturan diskresi itu sudah ada. Sosialisasi dilakukan oleh tim dari Mabes Polri, yang berkeliling ke satuan wilayah. Namun, menurutnya, anggota Polri tidak boleh hanya bergantung pada sosialisasi.

"Seharusnya masuk anggota Polri, segera cari aturan mana yang atur ruang gerak saya," pungkasnya.
(brt/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed