Kebesaran Hati Kakek-Nenek Penghuni Gubuk Reyot di Kebun Bambu

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Kamis, 27 Apr 2017 15:42 WIB
Foto: Chaidir Anwar T/detikcom
Pekanbaru - Dilihat dari tempat tinggalnya, jelas Siare (76) dan Rini (65) hidup serbakekurangan. Rumah pasutri renta ini berupa gubuk reyot. Namun mereka enggan meminta-minta dan memilih bekerja. Salut!

Siare dan Rini tinggal di Jl Kaswari, Kel Sidomulyo Timur, Kec Marpoyan Damai, Pekanbaru. Dari badan jalan, gubuk mereka berjarak sekitar 50 meter di belakang rumah warga.

detikcom berkunjung ke gubuk Siare dan Rini dengan didampingi Ketua Forum Komunikasi Polisi dan Masyarakat (FKPM) Bangun Sitepu dan bendaharanya, Ashari, Kamis (27/4/2017). Jalan menuju gubuk tergenang air karena hujan. Di bawah rindangnya pohon bambu, di situlah bangunan gubuk ukuran 3 x 4 meter berdiri.

Gubuk mereka apa adanya. Kedatangan kami disambut hangat Kakek Siare. Wajahnya semringah melihat ada tamu datang. Setelah mempersilakan duduk di bangku-bangku kayu yang ada di sebelah gubuknya, dia mengajak istrinya keluar.

Ketua FKPM Bangun Sitepu membantu memapah nenek Rini dari dalam gubuknya untuk duduk bersama. Kedua pasangan suami-istri ini duduk berdua.

Gubuk ini terbuat dari tripleks bekas yang dikumpulkan Kakek Siare. Atapnya terbuat dari terpal bekas yang dibelinya seharga Rp 500 ribu. Kayu-kayu sebagai tiang penyangga dia ambil dari di pohon akasia yang tumbuh di sekitar gubuknya.

"Ya, beginilah keadaan kami. Tapi harus tetap semangat untuk hidup. Tuhan tidak pernah tidur, bagi yang mau berusaha, pasti dikasih rezeki," kata Siare dalam perbincangan dengan detikcom.

Di gubuk ini, tidak ada saluran listrik. Setiap malam, mereka menggunakan lampu colok yang menggunakan minyak tanah. Itu pun lampu coloknya lebih lama tak menyala karena tidak adanya duit untuk membeli minyak tanah.

Kehidupan yang serbakekurangan ini tidak pula membuat mereka mesti hidup meminta-minta kepada tetangga. Apalagi untuk mengemis di persimpangan sebagaimana yang sering terlihat di pusat kota.

Bagi Kakek Siare, sekalipun hidupnya dalam kekurangan, dia dan istrinya pantang mencari rezeki dengan cara mengemis. Tidak pernah terlintas di benak mereka berdua, dengan kondisi ekonomi yang serbatiada, untuk menengadahkan tangan di persimpangan jalan berharap belas kasihan orang.

"Biarlah hidup seperti ini, tak mau saya mengemis. Masih banyak jalan lagi mencari rezeki. Rasanya hidup mengemis itu rezekinya kurang halal. Kan nggak semua orang memberikan secara ikhlas," kata Siare.

Itu sebabnya, dengan bermodal harta andalannya sepeda bekas, kakek ini selalu mencari buah pinang yang tak jauh dari gubuknya. Buah pinang itu dia beli dari warga dengan harga rata-rata satu karung ukuran 10 kg dengan harga Rp 20-25 ribu.

Kakek Siare dan Nenek RiniKakek Siare dan Nenek Rini (Chaidir Anwar T/detikcom)

Dari satu karung itu, nantinya akan menghasilkan sekitar 4 kg buah pinang. Biji pinang yang telah dia belah dan dijemur nantinya akan dia jual kembali dengan kisaran harga Rp 11 ribu per kg. Keuntungan rata-rata dari jualan pinang ini paling banter Rp 20 ribu.

"Saya cari pinang hanya seminggu sekali. Kalau harganya lagi bagus, bisa dapat Rp 20 ribu seminggu, kalau lagi turun dapat Rp 15 ribu," kata Siare.

Uang hasil penjualan pinang ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup makan sehari-hari. Meski demikian, kakek ini tak memungkiri, bila kadang dia menerima bantuan beras dan gula dari sejumlah warga sekitarnya. Kadang juga lewat jaringan FKPM ada warga luar yang juga memberikan bantuan.

"Alhamdulillah, kalau beras dan gula ada yang memberi kami. Tapi untuk meminta-minta, saya tidak pernah melakukan hal itu. Kalau ada yang memberi ke gubuk kami ini, ya kami terima. Uang hasil jual pinang untuk beli sayur-sayuran," kata Siare.

Untuk memasak nasi, mereka menggunakan tungku kayu. Piring-piring yang ada hanya terbuat dari piring plastik. Tidak ada jamban di gubuk itu. Untuk buang air besar, mereka hanya memanfaatkan lubang tanah yang agak jauh dari gubuknya.

Untuk urusan mandi, mereka membuat sumur ala kadarnya. Tempat tidur mereka terbuat dari kayu-kayu yang disusun rapi setinggi 30 cm dari tanah. Ini guna menghindari genangan air dalam gubuknya saat hujan turun. Atap gubuknya pun banyak yang bocor. Di tengah kegelapan saat malam hari, keduanya hidup bersama.

"Kami sudah berjanji untuk sehidup-semati. Kalau saya duluan meninggal, saya titipkan harta satu sepeda. Kalau istri saya duluan meninggal, nanti baju-bajunya saya sumbangkan ke orang miskin lagi," kata Siare. (cha/try)