Lettu Sri Tigo Kencono, Ahli Matematika dan Jago Komputer

Lettu Sri Tigo Kencono, Ahli Matematika dan Jago Komputer

- detikNews
Senin, 25 Apr 2005 18:17 WIB
Jakarta - Nyawa Lettu (Kav) Sri Tigo Kencono tidak bisa diselamatkan setelah tertembak peluru oleh rekannya Praka Bachtiar Chaniago. Di mata rekannya, Sri Tigo adalah ahli matematika dan jago komputer. Cap sebagai orang pintar wajar saja diberikan oleh teman-temannya. Dari riwayat pendidikannya, Tigo memang membuktikan hal itu. Dia adalah alumnus Teknik Mesin Universitas Brawijaya Malang, sebelum masuk dunia militer. Dan di akhir hayatnya, di dunia militer, Sri Tigo juga berkutat dengan hal-hal yang berkaitan dengan otak. Jabatan terakhirnya adalah Kepala Tim Pemeliharaan Rudal 003 di Detasemen Rudal III Cikupa Tangerang. Sedangkan di lapangan, kepemimpinannya juga termasuk oke. Dia juga menjabat sebagai Komandan Kompi Detasemen Rudal III. Itulah dua jabatan terakhirnya di dunia militer dengan pangkat terakhirnya, Lettu (Kav), sebelumnya akhirnya meninggal dunia pukul 10.00 WIB, Senin (25/4/2005). Sri Tigo menghabiskan sekolah dasarnya di SD di Surabaya. Kemudian dia melanjutkan ke SMP 12 Surabaya sampai kelas II. Saat sekolah di SMP ini, Sri Tigo dipilih sebagai wakil sekolahnya untuk lomba matematika. Saat di SMP, nilai matematikanya selalu 10. Sri Tigo kemudian melanjutkan kelas 3-nya di SMP III Manggarai, Jakarta Selatan. Setelah itu, melanjutkan ke SMA 8 Jakarta. Setelah lulus dari SMA, Sri Tigo diterima di jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang. Setelah jadi sarjana, pria kelahiran 17 April 1974 ini kemudian mendaftarkan Spapeka (Sekolah Perwira Karya). Dari sinilah, Sri Tigo mulai mengikuti pendidikan militer. Dia lulus tahun 2000. Sri kemudian melanjutkan pendidikan Sarcab (Dasar KEcabangan) di Malang. Selepas pendidikan, tahun 2000, Sri ditugaskan di Jakarta di Resimen I Priok dengan pangkat Letda. Setelah itu, anak pasangan Raden Sri Sungkowo-Cicik ini ditugaskan di Detasemen Rudal III yang bermakas di Cikupa. Rekan almarhum, Kapten I Wayan Karyana, mengaku kehilangan Sri Tigo, yang dinilainya sebagai teman yang mengasyikkan. Bagi Wayan, Sri adalah prajurit yang bagus, humoris, olahragawan, supel, dan pintar. "Komputernya ahli, jago dia. Bengkelnya komputer di kantor kita, ya dia," kata dia saat ditemui wartawan di rumah duka di RT 003/01 nomor B 16, Kelurahan Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan. Sri adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Ayahnya, Raden Sri Sungkowo adalah dosen di Sekolah Tinggi Pelayaran. Sungkowo pasrah dengan nasib anaknya itu. Saat jenazah Sri Tigo dimakamkan di TPU Menteng Pulo, Sungkowo juga menilai insiden yang menimpa anaknya adalah kehendak Tuhan. "Saya pasrah, ini sudah takdir Tuhan," kata dia. Menurut Sungkowo, pilihan masuk dunia militer, adalah pilihan anaknya itu. "Masuk militer adalah kemauannya sendiri. Dan terakhir, saya lihat dia gembiar, senang, dan semangat," ujarnya. Saat menghembuskan nafas terakhir, menurut Sungkowo, Sri Tigo tidak sempat berbicara sedikit pun. "Setelah operasi, dia masih saja tidak sadar," ungkapnya. Dia menyerahkan kasus anaknya ini kepada aparat berwenang. Saat ditanya tertembak di bagian apa Sri Tigo, Sungkowo tidak mau menjelaskan. "Ada yang lebih berwenang menjelaskan soal itu," ungkapnya. Istri Sri Tigo Rizki Wibawani masih shock berat atas musibah ini. Selain meninggalkan seorang istri, Sri Tigo juga meninggalkan seorang anak perempuan berusia 10 bulan, bernama Alifah Khanza Habibillah. Anak kecil itu jelas belum tahu terhadap nasib ayahnya itu. Sri Tigo meninggal pukul 10.00 WIB di RSPAD Gatot Subroto setelah menjalani operasi. Dia dimakamkan di TPU Menteng Pulo selepas lohor. Saat dimakamkan, inspektur upacara pemakaman Danmen Arhanud I Falatrehan Kolonel Hadi Prasojo menyebutkan almarhum meninggal karena sakit. (asy/)


Berita Terkait