Karangan Bunga dari Masa ke Masa: Simbol Perasaan hingga Spiritual

Niken Purnamasari - detikNews
Kamis, 27 Apr 2017 11:50 WIB
Foto: Karangan bunga untuk Ahok di Balaikota DKI. (Nathania Riris Michico/detikcom).
Jakarta - Karangan bunga biasanya terlihat saat ada upacara pernikahan, ulang tahun, peresmian suatu tempat, ungkapan duka cita dan lainnya. Ada ungkapan yang ingin disampaikan dari 'bahasa' bunga dalam karangan tersebut.

Karangan bunga masuk dalam bagian seni merangkai bunga yang disusun dalam berbagai bentuk kreatif. Rangkaian bunga menjadi simbolisme tertentu, bergantung pada pemilihan jenis bunga. Dalam budaya di beberapa negara Asia dan Timur Tengah, menganggap bunga tertentu sebagai hal suci dan berhubungan dengan spiritual.Sementara di era Victoria, bunga memiliki arti khusus. Seperti bunga chamomile sebagai ungkapan 'kesabaran' dari kekasih pada pasangannya.

Rangkaian bunga di masa Mesir Kuno. Rangkaian bunga di masa Mesir Kuno. Foto: Dok. Internet

Dari sejumlah informasi yang dihimpun detikcom, seni untuk merangkai bunga berasal dari Mesir sejak 2500 tahun sebelum masehi. Dari artefak yang ditemukan oleh arkeolog, terlihat karangan bunga dalam vas. Rangkaian dekorasi dengan bunga juga terlihat dari relief pada mumi. Bunga-bunga tersebut sebagai simbol relijius sekaligus kesucian.

Rangkaian bunga di masa Mesir Kuno. Rangkaian bunga di masa Mesir Kuno. Foto: Dok. Internet

Seni karangan bunga kemudian terus berkembang hingga ke Yunani Kuno dan Kerajaan Romawi. Mereka begitu tertarik pada karangan bunga dan memakai jenis bunga terbaik. Bagi orang-orang Yunani, karangan bunga merupakan simbol bagi kekuasaan, kesetiaan, dedikasi dan kehormatan. Sedangkan orang Romawi menganggap karangan bunga sebagai lambang kemenangan militer dan menghormati kemenangan komandan yang baru saja perang.

Karangan Bunga dari Masa ke Masa: Simbol Perasaan hingga SpiritualPenggunaan rangkaian bunga di masa Yunani Kuno. Foto: Dok. Flower Across Melbourne


Bentuk dari karangan bunga pada masa itu memengaruhi bentuk yang ada saat ini. Bentuk lain dari karangan bunga di masa Romawi yang terkenal yakni digunakan pada kepala.


Karangan Bunga dari Masa ke Masa: Simbol Perasaan hingga SpiritualRangkaian bunga di masa Romawi. Foto: Dok. Blog Flower Across Melbourne


Berkembangnya zaman turut mempengaruhi bentuk dari karangan bunga. Pada masa Renaissance (tahun 1400 hingga 1600), desain karangan bunga turut menandai mulainya era kemajuan di eropa. Gaya karangan bunga era Renaissance dipengaruhi gaya klasik Yunani, Romawi dan Bizantium. Pada masa ini, orang-orang di Eropa begitu menikmati rangkaian dengan banyak bunga. Mereka banyak menggunakan karangan bunga di gereja-gereja. Bunga yang paling banyak digunakan yakni mawar dan lily.


Bentuk rangkaian bunga di masa Renaissance. Bentuk rangkaian bunga di masa Renaissance. Foto: Dok. Blog Flower Across Melbourne


Kemudian pada abad ke-18, di Belanda, rangkaian bunga digunakan untuk menghiasi rumah-rumah para pejabat dan keluarga kaya. Kebiasaan ini juga turut menyebar di Inggris. Jenis rangkaian bunga yang populer saat itu yaitu "Tussie-Mussie atau Posy". Rangkaian bunga tussie-mussie adalah buket bunga melingkar yang membawa makna simbolis berdasarkan bahasa bunga. Bunga yang diberikan akan mewakili perasaan tertentu.

Memasuki era moderen pada abad ke-20, karangan bunga semakin bervariasi bentuk dan jenisnya. Mulai dari bouquet, standing flower hingga karangan bunga yang dibentuk menggunakan papan. Seperti yang terlihat di Balai Kota DKI Jakarta belakangan waktu ini.

Karangan bunga untuk Ahok-Djarot di Balai Kota. Karangan bunga untuk Ahok-Djarot di Balai Kota. Foto: Bisma Alief/detikcom

Ada hampir 1.000 lebih karangan bunga yang membanjiri Balai Kota. Karangan bunga datang dari warga yang ditujukan khusus untuk Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat. Tulisan pada karangan tersebut beragam dan rata-rata bernada 'baper' (bawa perasaan), meminjam istilah kekinian yang digunakan anak-anak muda saat ini.

Karangan bunga di Balai Kota. Karangan bunga di Balai Kota. Foto: Nathania Riris Michicco/detikcom

Sebagian besar warga mengungkapkan rasa terima kasih kepada Ahok-Djarot yang telah bekerja untuk membenahi Jakarta. Sebagian lagi merasa 'kehilangan' sebab duo petahana itu bakal berakhir masa jabatannya pada Oktober 2017 mendatang. Digantikan oleh Anies Baswedan-Sandiaga Uno sebagai pemimpin baru di DKI Jakarta. (nkn/fjp)