Wirawan sendiri merupakan agen Cogen, perusahaan pembuat program AFIS asal Amerika Serikat.
"Diadakan POC, ada 7 perusahaan yang ikut. Di situ mulai ada Jerman di dalamnya, ditunjuk Cogen waktu itu yang dianggapnya menang. Mulailah PHLN itu mengarah ke China. Karena Bappenas bilang dana China ada," kata Wirawan di PN Tipikor, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (27/4/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Waktu itu China merasa tertarik, tapi US juga tertarik karena produknya Cogen. Sehingga kedua negara ini tertarik, tapi US tak bisa memberikan soft loan," jelas Wirawan.
Sebelum adanya POC, Wirawan sempat datang ke Kemendagri untuk mempromosikan Cogen. Presentasinya disetujui dan diakui Cogen mempunyai nilai yang cukup baik.
"Waktu itu diterima dengan baik oleh Pak Rasyid (mantan Dirjen Dukcapil). Diakui bahwa proposal saya cukup baik, itu setelah dilakukan satu paparan di Kemendagri," tuturnya.
Hanya, pada akhirnya rencana pinjaman lunak dari China itu tak disetujui. Sebab, Mendagri memutuskan menggunakan rupiah murni.
"Oleh Menteri tidak di-acc dan diubah menjadi rupiah murni. Berarti yang lalu itu sudah tidak ada," ungkapnya. (rna/fdn)











































