Polisi yang bertugas di Bengkulu itu pun langsung melarikan sang anak ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak terselamatkan. Aiptu BS pun kini menyepi dan tidak diketahui keberadaannya lantaran shock.
Lalu, bagaimana sebenarnya standard operating procedure (SOP) penggunaan senjata api bagi polisi dan mengapa Aiptu BS tidak mengecek terlebih dulu sebelum menarik pelatuk pistolnya?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apalagi, menurut Sudarno, saat itu Aiptu BS baru bangun tidur. Sudarno mengatakan dipastikan kondisi itu berbeda dengan apa yang sudah dilatih.
"Beda pas lagi tugas, kondisinya kan sudah siap. Ini kondisi bangun tidur, situasinya kan beda, secara psikologis kan beda," ujar Sudarno.
Peristiwa itu terjadi pada Selasa (25/4) lalu di kediaman Aiptu BS di Jalan Sumatera 5, Kelurahan Sukamerindu, Kecamatan Teluk Segara, Bengkulu. Kejadian itu berlangsung sekitar pukul 04.00 WIB.
Saat itu, Aiptu BS mengira anaknya adalah pencuri. Namun kondisi yang gelap membuat Aiptu BS tidak bisa memastikan dengan jelas dan akhirnya melepaskan tembakan.
Belakangan, ternyata yang ditembak Aiptu BS adalah anak sendiri. Aiptu BS pun langsung membawa anaknya itu ke RS Bhayangkara Polda Bengkulu untuk divisum. Pada saat bersamaan, Aiptu BS menyerahkan senjata api kepada Kompol Harry Irawan (Subdit Renata Reskrim Polda Bengkulu), lalu pergi. (dhn/dhn)











































