"Bukan menterinya yang di-reshuffle, tapi partainya yang di-reshuffle, seperti PAN, yang seolah bermain dua kaki dalam kabinet," ungkap Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia Ray Rangkuti.
Hal tersebut dia sampaikan dalam diskusi bertema 'Reshuffle Jilid 3: Konsolidasi Terakhir' di D'Hotel, Jl Sultan Agung, Setiabudi, Jakarta Selatan, Rabu (26/4/2017). PAN sendiri baru saja menjadi pendukung pemerintahan Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla.
Ray menilai sikap PAN tidak konsisten sebagai pendukung pemerintah. Sebab, dalam beberapa kesempatan, partai pimpinan Zulkifli Hasan itu kerap berseberangan dengan pemerintah. Termasuk saat Fraksi PAN DPR ikut menginisiasi hak angket untuk pemerintah terkait 'Ahok Gate'.
"Baru masuk koalisi kalau pas kekuasaan oke, tapi kalau jatuh nggak, itu terlihat pada peristiwa 411, 212, dan hak angket, PAN ikut menginisiasi," ujar Ray.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Para Syndicate Ari Nurcahyo memprediksi tiga menteri akan diganti apabila Jokowi melakukan reshuffle. Pertama adalah Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil, Menteri BUMN Rini Soemarno, serta Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Asman Abnur.
"Bapak Sofyan Djalil, terkait kinerja beliau jauh di bawah target, itu pertimbangan objektif. Pertimbangan subjektif bagaimana soal relasi beliau yang dekat dengan Pak JK. Beberapa statemen antara Presiden dan Wapres sering berseberangan di publik," jelas Ari dalam kesempatan yang sama.
"Kedua, yang perlu di-reshuffle adalah ibu Rini Soemarno. Beberapa dari segi objektif bagaimana capaian dari konsolidasi BUMN itu sampai sekarang belum kelihatan," imbuhnya.
Ari menyatakan, pada awal menjabat, Rini cukup terlihat gereget. Namun, belakangan, kinerjanya dipertanyakan, apalagi ada beberapa kasus terkait BUMN yang belum terselesaikan dengan baik di daerah.
"Bagaimana sebenarnya Bu Rini, nama beliau sudah masuk tiga kali dalam bursa reshuffle, tampaknya cukup kuat," imbuh Ari.
Sementara itu, Asman Abnur merupakan menteri yang baru saja masuk jajaran Kabinet Kerja pada reshuffle jilid II, menggantikan Yuddy Chrisnandi. Asman merupakan politikus PAN.
"Dari PAN, prestasi kerja memang kurang. Namanya pun kita sering lupa. Ada alasan subjektif. PAN sebagai pendatang baru, di parlemen konsistensi sikap terhadap politik Pak Jokowi sangat lemah, diragukan," jelas Ari.
"Terkait ancaman pergerakan politik massa dan ancaman stabilitas politik yang hari ini menjadi cukup mengganggu kinerja kementerian bagaimana pencapaiannya," sambung dia.
Para pengamat politik ini pun merekomendasikan agar Presiden Jokowi mencari menteri baru dari kelompok profesional apabila melakukan reshuffle jilid III. Atau bisa juga lebih mengakomodasi PPP karena sikapnya jauh lebih konsisten dalam mendukung pemerintahan.
"Saran kami, dari PPP bisa menguatkan karena dalam kaitan kedekatan partai Islam pada Presiden," tutur Ari.
Munculnya isu reshuffle juga memanas setelah Pilgub DKI selesai. Kekalahan calon Gubernur DKI petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) versi hitung cepat memunculkan isu akan diangkatnya dia menjadi salah satu menteri di Kabinet Kerja. Namun Ari memprediksi lain.
"Status hukumnya belum jelas. Mungkin suatu hari ada posisi yang bagus buat Ahok kalau saya lihat reshuffle kali ini bukan untuk posisi Pak Ahok, melainkan konsolidasi persiapan presiden terkait ajang politik 2018 dan 2019," sebutnya.
"Menciptakan stabilitas yang baik itu adalah hal yang utama. Kalau variabel Pak Ahok justru akan berpotensi menimbulkan instabilitas baru. Jadi Presiden harus ada pertimbangan baru, agar Pak Ahok tidak dijadikan (menteri saat) reshuffle," tambah Ari.
Mengenai isu reshuffle di Kabinet Kerja, pengamat politik Jerry Sumampow menilai ini tak akan menjadi yang terakhir. Namun dia mengatakan seringnya reshuffle akan berdampak tidak baik bagi pembangunan.
"Saya kira kalau reshuffle ketiga terjadi, saya nggak yakin ini yang terakhir, karena masih ada dua tahun. Kalau menterinya terus diganti, bisa menghambat pembangunan," urai Jerry.
"Fokusnya itu pada sesuatu yang lebih konkret, lebih pada yang dia lakukan efeknya dirasakan masyarakat. Sehingga sebetulnya sangat mudah melakukan evaluasi," tandasnya.
Halaman 2 dari 2











































