"Warga di kota itu tidak perlu resah soal fenomena piton ini. Ketemu fenomena seperti ini ya ada flashback yang bisa kita lihat. Pertama, asal-usulnya (dari mana). Kalau tidak mau ular datang, jangan beri kesempatan tikus datang ke rumah. Artinya, kita harus bersih," kata Amir saat berbincang dengan detikcom, Selasa (25/4/2017).
"Tikus itu kan ke mana-mana ada. Jadi itu kemudian tentu saja ini satwa liar dan bahaya, teman-teman yang melihat yang benar-benar suka hewan seperti ini tahu safety-nya," ucapnya.
Amir menegaskan tak ada pilihan selain rumah harus bersih dan tak tertutup sinar matahari. Ia juga mengomentari soal garam yang dipakai untuk mengusir ular. Hal tersebut ditegaskannya tak benar.
"Tikus selalu mengikuti manusia. Kita ada makanan, kita jorok buang sampahnya juga, mungkin sampah nggak tiap hari kita angkut dari keranjang sampah. Tikus datang, ya ular datang. Simpel, rumah harus bersih, sering dipel tiap hari. Kalau garam itu hanya fenomena, bukan solusi. Nggak ngaruh soalnya garam itu," tuturnya.
Amir menjelaskan penemuan ular di saluran air di Pasar Minggu dianggapnya sebagai suatu hal yang wajar. Gorong-gorong termasuk tempat yang lembap dan dingin. Di situlah habitat ular.
"Kalau ular ini, kita lihat dia bisa hidup dalam gorong-gorong, makan tikus terus-terusan. Dia punya sensor panas. Dia mencari makan mengikuti mangsanya. Mendeteksi tikus ada di mana," katanya. (rna/dnu)











































