RI-Cina Jajaki Kerja Sama Pertahanan

RI-Cina Jajaki Kerja Sama Pertahanan

- detikNews
Senin, 25 Apr 2005 15:10 WIB
Jakarta - Hubungan kerja sama bilateral terus digalang negara Asia Afrika, tak kecuali RI dan Cina yang tengah menjajaki kerja sama di bidang pertahanan.Sebagai tindak lanjut, Cina sedang mengkaji 4 industri strategis pengadaaan alat utama sistem pertahanan. Keempat industri yang dikaji yakni PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, PT Bahana dan PT PAL."Mungkin tiga bulan lagi, saya dengan menteri perindustrian dengan menristek akan ke Beijing. Saat ini, ada 4 industri strategis yang sedang dikaji pihak Cina dan kita sedang menunggu hasil kajian ulang itu," kata Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (25/4/2005)."Semua yang berhubungan dengan industri stretegis. Saya diminta untuk menindaklanjuti, arahnya di bidang kemandirian untuk pengadaan alutsista kita dengan bantuan teknis dari pihak Cina," ungkap dia.Menhan membantah kerja sama dengan Cina bukan sebagai langkah menghilangkan ketergantungan pada AS. "Tidak, kita tetap membuka hubungan dengan semua negara, termasuk AS kalau mereka tidak rewel dengan soal HAM dan soal lain. Kita tetap membuka hubungan dengan semua negara Amerika Utara, Amerika Serikat, Kanada, Eropa Timur dan Eropa Barat. Nanti kita buat matriksnya karena politik kita bebas aktif," papar Menhan."Negara yang ingin membantu kita menuju kemandirian dalam industri pertahanan, kita lakukan terbuka dengan Jerman, Perancis dengan siapa saja yang menawarkan syarat yang baik dan cocok dengan prioritas pengadaan alutsista kita," lanjutnya.Menhan mencontohkan kerja sama yang tengah dijalin salah satunya persenjataan ringan untuk angkatan laut, darat dan udara. "Sampai sekarang, mereka belum selesai dengan pengkajian 4 industri strategis yang mereka janjikan sejak 2003. Sementara itu, mereka minta pendataan tentang kemampuan hasil riset kita diberikan secara cuma-cuma itu kita tolak," kata Menhan.Lebih lanjut, Menhan menegaskan dirinya tidak akan memberikan data sebelum kesepakatan kerja sama selesai. "Tadinya, mereka mau bawa hari ini tetapi waktu mereka datang pengkajian ternyata belum selesai," ujarnya."Kita ingin sifatnya menuju pada kemandirian, bikin alutsista pada bidang pertahanan seperti pembuatan kapal selam, kapal terbang termasuk hercules Eropa. Tetapi, kita kaji mana yang cocok harganya mana yang memenuhi persyaratan minimum kita," demikian Menhan. (aan/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads