"Itu rekap yang kita minta dari 171 daerah. 171 daerah itu rekapnya sudah masuk ke kita. Tapi 171 itu masih dalam pembahasan dengan Pemda masing-masing, jadi bisa saja disetujui semua tapi bisa juga dikoreksi oleh Pemda," ujar Ketua KPU Arief Budiman di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (25/4/2017).
Angka Rp 11,3 triliun tersebut diakui Arief sempat membuatnya heran. Namun dia memaklumi karena memang Pilkada 2018 diikuti oleh daerah-daerah yang jumlah pemilihnya besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arief membandingkan kondisi Pilkada 2018 dengan tahun 2015. Menurutnya, di tahun 2015 daerah-daerah yang ikut Pilkada tak terlalu luas wilayahnya.
"Sekarang itu ada Papua, Sumut, Jatim, Jabar, Jateng, Sumsel. Ini daerah-daerah yang pemilihnya yang besar-besar semua kan," ucapnya.
Angka yang cukup besar itu juga disebut tak akan membebankan negara. Karena dana yang dipakai berasal dari APBD masing daerah. Sekali lagi Arie menekankan jumlah tersebut bisa saja turun, bahkan kemungkinan besar di bawah angka Rp 11,3 triliun.
"Anggaran yang digunakan kan bukan anggaran nasional tapi anggaran APBD maka mereka lah yang bernegosiasi. Kami pikir Pemda dalam menyetujui, menyepakati jumlah anggaran, tentu mempertimbangkan prinsip efektifitas dan efisiensi. Tidak ada anggaran dari pusat, tetapi di UU memungkinkan, tetapi sejauh ini belum ada. Ini usulan dari anggaran dareah," paparnya.
"Supaya teman-teman pahami, Rp 11,3 T itu usulan. Nanti, persetujuannya sangat mungkin di bawah itu. Cuma kan kita tanya semua ini, kamu usul berapa dan skema pencairannya bagaimana, kita tanya semua, belum ada yang ditandatangani sama sekali," tutupnya. (gbr/imk)











































