Yorrys Sebut Novanto Sebentar Lagi Tersangka, KPK: Masih Didalami

Yorrys Sebut Novanto Sebentar Lagi Tersangka, KPK: Masih Didalami

Aditya Fajar Indrawan - detikNews
Selasa, 25 Apr 2017 15:02 WIB
Yorrys Sebut Novanto Sebentar Lagi Tersangka, KPK: Masih Didalami
Wakil Ketua KPK Alexander Marwata (Foto: Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta - Status hukum Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto terkait kasus dugaan korupsi proyek e-KTP disebut Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Partai Golkar Yorrys Raweyai akan segera berubah. Yorrys menyebut Novanto sebentar lagi akan menjadi tersangka.

Lalu apa kata pimpinan KPK?

"Pasti semua masih akan didalami kalau ada informasi atau bukti-bukti yang cukup," ujar Wakil Ketua KPK Alexander Marwata di JS Luwansa Hotel, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Selasa (25/4/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Alex, sapaan karib Alexander, menyebut status Novanto sejauh ini hanya disebut 'bersama-sama' dalam surat dakwaan untuk Irman dan Sugiharto. Namun, terkait penetapan tersangka Novanto, Alex menyebut sampai saat ini belum ditentukan.

"Sejauh ini belum ada surat penetapan beliau menjadi tersangka, sebatas surat dakwaan kan di sana disebutkan bersama-sama tapi kalau penetapan tersangka masih panjang, jadi belum ada masih jauh," ucap Alex.

Sebelumnya, Yorrys menjelaskan maksud ucapannya tentang Novanto sebentar lagi tersangka di kasus e-KTP. Menurut Yorrys, kalimat itu disampaikannya saat menjawab pertanyaan para wartawan soal perkembangan kasus korupsi e-KTP. Pertanyaan juga menyangkut status cekal yang dikenakan kepada Novanto.

"Saya bilang, kan dia tanya. Tetapi biasanya di KPK kalau sampai dicekal, KPK kan punya lex specialis, dia punya extraordinary hukumnya. Tetapi, kita tetap mengacu pada hukum positif yang ada. Persidangan itu aja kan," ujar Yorrys saat dihubungi terpisah.

Partai Golkar, kata Yorrys, telah menyiapkan sebuah strategi antisipasi jika Novanto benar-benar ditetapkan sebagai tersangka. Golkar harus responsif, namun tidak boleh terlihat terlalu reaktif.

"Semua kemungkinan itu kita sudah coba lakukan konsolidasi dan bicara ke dalam. Ini strategi internal. Segala kemungkinan kita harus antisipasi. Lebih baik kita responsif daripada reaktif," kata dia.

(dhn/van)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini