Mukhtar Tompo yang dikonfirmasi detikcom, mengakui dirinya terpaksa melapor ke polisi, karena Syamsuddin tidak pernah meminta maaf atas perbuatannya yang mencoba menampar dirinya disertai sundutan bara rokok saat berdebat tentang proyek bendungan Karalloe.
"Dia tak pernah minta maaf ke saya. Saya laporkan dia untuk meredam emosi keluarga dan juga jaringan saya, saya coba tenangkan mereka (keluarganya) dengan dalih saya sudah lapor dan biarlah diselesaikan secara hukum," ujar Mukhtar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Syamsuddin mengakui dirinya mendorong badan Mukhtar karena tersinggung dengan ucapan Mukhtar yang menyebut data jumlah anggaran proyek bendungan yang disampaikannya dari data jin dan tidak berdasar.
"Saya akui mendorong badannya dan menyebut dia kurang ajar. Dia tidak hargai saya dan menyinggung nama Gubernur Sulsel. Apalagi dia memukul pundak saya dari belakang. Itu sikap kurang ajar kalau di Jeneponto orang lebih muda begitu pada orang yang lebih tua," ungkap Syamsuddin.
Baca: Debat Proyek Bendungan, Anggota DPR dan DPRD Cekcok di Pemakaman
Syamsuddin menambahkan, ia mendapat informasi dari Sekda Jeneponto Syarif Karaeng Patta bahwa Mukhtar tidak akan membawa kasus mereka berdua ke ranah hukum, setelah adanya proses mediasi.
"Mukhtar itu menyalahi komitmennya pada Sekda Jeneponto yang telah memediasi kasus ini semalam. Dia bilang tidak mau lapor polisi, ternyata dia laporkan saya. Jadi saya ikut laporkan dia juga," pungkas anggota Fraksi PAN Sulsel ini.
Sementara Kapolres Jeneponto AKBP Hery Susanto mengatakan, jajarannya tengah memproses laporan 2 anggota dewan tersebut. Penyidik sedang mengumpulkan keterangan saksi-saksi.
"Masih dikumpulkan keterangan dan pemanggilan saksi-saksi," ujar Hery.
Cekcok 2 anggota dewan ini terjadi Minggu siang kemarin (23/4/2017) di Desa Bonto Mate'ne, Kec. Turatea, Jeneponto, Sulawesi Selatan. Keduanya hadir dalam pemakaman mantan Wakil Wali Kota Makassar Supomo dan terlibat debat soal proyek bendungan. (mna/try)










































