Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumut Hotmauli Sianturi mengatakan, petugas pertama kali mendapat laporan soal kematian gajah tersebut pada Selasa (18/4) sekitar pukul 12.00 WIB di areal kebun perusahaan perkebunan.
Petugas yang mendapat laporan dari warga kemudian menuju ke lokasi untuk melakukan pengecekan. Keesokan harinya, tim gabungan penanganan meluncur ke lokasi untuk melakukan kegiatan autopsi atas penyebab kematian gajah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Jefris Santama/detikcom |
Ia menerangkan, bangkai gajah itu ditemukan di alur sungai. Autopsi dilakukan oleh tenaga medis. Hasil pengamatan, tidak ditemukan luka yang signifikan menjadi penyebab kematian gajah. Namun, ia belum bisa menyimpulkan kematian gajah itu.
Pada kaki gajah, lanjut Hotmauli, ditemukan luka kecil dan bekas luka lama. Diperkirakan, gajah tersebut sudah mati lebih dari 48 jam setelah dilakukan autopsi.
"Beberapa sampel bagian tubuh dari gajah telah dibawa untuk uji laboratorium guna mengetahui penyebab kematian satwa tersebut. Kemudian, bangkai gajah dikuburkan tidak jauh dari areal lokasi penemuannya," tutup Hotmauli. (try/try)












































Foto: Jefris Santama/detikcom