Buaya dengan panjang sekitar 4,96 meter ini kini sudah diamankan di kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh. Reptil ini dikurung di dalam kandang berukuran besar. Untuk makanan, tim BKSDA memberinya ayam.
Kondisi buaya sekarang mulai agresif kembali. Mata pancing yang tersangkut di kerongkongannya juga sudah dilepas. Satu tangannya terlihat puntung diduga akibat berantem di air sebelum berhasil ditangkap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Agus Setyadi/detikcom |
"Tapi tidak kita layani permintaan tersebut. Mungkin karena mereka takut kena hukum, akhirnya mereka menghubungi tim BKSDA dan menyerahkannya," kata Sapto saat ditemui wartawan di kantornya, Jumat (21/4/2017).
Penangkapan buaya ini dilakukan warga pada Sabtu (8/4) lalu. Pihak BKSDA mendapat informasi sehari setelahnya, yaitu pada Minggu (9/4). Ketika tim BKSDA tiba di lokasi, masih ada mata pancing di kerongkongan buaya tersebut.
Beberapa hari kemudian, buaya ini diboyong ke Banda Aceh untuk melepaskan mata pancing dan perawatan. Awalnya, tim hendak membius buaya itu agar mata pancing mudah dilepas. Tapi, setelah berkoordinasi, ternyata obat bius yang ada di Indonesia tidak direkomendasikan untuk reptil tersebut.
"Akhirnya teman-teman memutuskan untuk melepas mata pancing dengan cara manual. Mulut buaya dibuka pakai tali dan diganjal dengan kayu," kata Sapto.
Foto: Agus Setyadi/detikcom |
Mata pancing yang menjerat buaya tersebut berhasil dilepas pada Rabu (12/4) lalu. Menurutnya, posisi mata pancing tidak terlampau dalam sehingga tidak terlalu membahayakan.
"Sekarang aktivitasnya cukup agresif sehingga kita berharap dapat hidup," ujar Sapto.
"Tangannya itu mungkin akibat perkelahian, karena buaya ini jantan, biasalah sesama jantan. Jadi cacat dari awal," kata Sapto. (try/try)












































Foto: Agus Setyadi/detikcom
Foto: Agus Setyadi/detikcom