DetikNews
Jumat 21 Apr 2017, 11:29 WIB

Kisah Bayi Hidrosefalus Asal Serang yang Divonis Tak akan Sembuh

Bahtiar Rifa'i - detikNews
Kisah Bayi Hidrosefalus Asal Serang yang Divonis Tak akan Sembuh Syifa Hazriyah, bayi 8 bulan asal Cinangka, Kabupaten Serang, Banten, yang mengalami hidrosefalus (Bahtiar Rifai/detikcom)
Serang - Malang nasib Syifa Hazriyah, bayi 8 bulan asal Cinangka, Kabupaten Serang, Banten. Syifa mengalami hidrosefalus dan divonis dokter RS dr Drajat Prawiranegara tidak akan sembuh.

Usaha keluarga menjalani pengobatan selalu menemui kendala. Selain karena masalah biaya, vonis dokter membuat keluarga ketakutan.

"Baru umur 20 hari dibawa ke RSUD Serang. Kata dokter ini mah bawa pulang aja. Ini penyakit udah parah. Kalaupun saya rawat, sedot, tulangnya nggak bakalan bisa nyatu walaupun dipaksakan operasi. Jantungnya juga belum kuat," kata Salim (40) menirukan saran dokter rumah sakit sebagaimana diceritakan kepada detikcom di rumahnya di Kampung Cikalahi Tengah, Desa Mekarsari, Cinangka, Kabupaten Serang, Jumat (21/4/2017).

Kisah Bayi Hidrosefalus Asal Serang yang Divonis Tak Akan SembuhFoto: Bahtiar Rifai/detikcom


Keluarga kemudian memutuskan menunda operasi Syifa. Namun Salim meminta dokter tetap memberikan perawatan kepada anaknya. Apalagi ada luka lecet yang kemudian membusuk di bawah kepalanya karena beban kepala yang membesar.

Syifa kemudian dirawat di rumah sakit. Namun, pada hari ke-9, Syifa diminta menjalani rawat jalan berdasarkan saran suster. Padahal luka di kepala bagian belakang belum juga sembuh.

"Boro-boro berobat jalan, buat obat luka seratus, dua ratus, nggak cukup. Mendingan saya beli obat di apotek buat beli obat (luka) di belakangnya ini," ujarnya sambil memperlihatkan bekas luka anaknya yang sekarang diperban.

Dari situ, Salim bersama istrinya, Siti Jumranah (31), kemudian merawat Syifa di rumah yang berkonstruksi bambu dan kayu di pelosok perbukitan Cinangka. Sampai di kemudian hari, ada peserta kuliah kerja nyata (KKN) menemukan keluarga ini. Mereka berinisiatif membantu lewat menyebarkan informasi di Facebook.

Reaksi netizen muncul. Bantuan datang hingga keluarga kemudian membawa Syifa kembali ke rumah sakit di Serang. Uang dari dermawan mereka gunakan untuk ongkos. Pada Selasa (11/4) minggu lalu, mereka malah bertemu dan berkonsultasi dengan dokter yang sama di Rumah Sakit dr Drajat Prawiranegara, Serang.

"Dipanggil perawat, ada dokter, ditanyai kamu ke sini mau apa. Ini penyakit paling parah. Ngapain kamu bawa ke sini. kalau ini anak saya, saya diamkan di rumah, mendingan pulang," kata Siti.

Meskipun Syifa divonis dokter tak bisa sembuh, Salim dan Siti datang kembali dua hari setelah itu untuk menjalani scan ulang. Tapi, karena mereka bertemu dengan dokter yang sama, vonis Syifa tidak akan sembuh kembali mereka terima.

Permintaan agar dirujuk ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di Jakarta juga ditolak karena kemungkinan Syifa sembuh tidak ada.

"Saya katakan sejujurnya, itu kan anak udah parah. Jangan harap dia walaupun dioperasi bisa ngomong. Jangan berharap bisa berdiri, tapi jangan kamu di media bilang karena BPJS kamu tidak dilayani," tutur Salim menirukan vonis dokter yang sama.

Lagi-lagi, karena saran mengerikan dari dokter, Salim dan Siti tidak sanggup meneruskan perawatan. Mereka memutuskan membawa Syifa ke rumah di Cikalahi Tengah, sekitar 30 kilometer dari pusat kota.

Minim Bantuan dan Perhatian

Perjuangan Salim dan Siti agar anaknya sembuh dari hidrosefalus sebetulnya selalu terkendala. Selain saran dokter yang memvonis Syifa tidak akan sembuh, keluarga miskin ini minim perhatian, baik dari lurah dan bidan desa maupun pemerintah.

Bahkan baru kemarin, karena peserta KKN, Salim mengaku mendapat bantuan untuk ongkos ke rumah sakit di Serang. Karena ada salah satu peserta yang sempat menyebarkan informasi di media sosial, donasi dari Baznas turun untuk menyambung harapan penyembuhan Syifa.

"Dari kabupaten nggak ada. Nggak damel nanaon, paling geh gogobras di kebon, hayang nengan 20 ribu geh teu kacapean (Saya nggak kerja, paling juga ke kebon, mau uang 20 ribu saja nggak kecapean," kata Salim.

Seingatnya, sewaktu masa kampanye Pilkada Banten, cawagub Andika Hazrumy sempat mampir di rumahnya. Itu pun setelah istrinya memaksa ke tim sukses agar melihat kondisi Syifa. Dari Andika, mereka mendapatkan bantuan uang.

"Pernah ada Andika waktu kampanye. Dideulu ku si Andika (dilihat sama Andika). Mampir ke sini, difoto, diminta KTP, dikasih nomor HP, dikasih 500 ribu, tapi sampai sekarang belum ada lagi (bantuan)" ujar Salim.
(bri/fdn)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed