DetikNews
Jumat 21 April 2017, 07:22 WIB

Tapal Batas

CCTV dan Drone Diperlukan untuk Pantau Perbatasan RI-Timor Leste

Danu Damarjati - detikNews
CCTV dan Drone Diperlukan untuk Pantau Perbatasan RI-Timor Leste Foto: Grandyos Zafna/detikcom
Atambua - Penyelundupan demi penyelundupan masih saja terjadi di sepanjang jalan tikus perbatasan Indonesia-Timor Leste. Untuk mengatasi masalah klasik ini, teknologi perlu digunakan.

Mengawasi perbatasan dengan cara tradisional, yakni datang dan memantau, tentu memiliki keterbatasan. Selain karena jarak pandang yang terbatas, ini terjadi karena jumlah personel tak selalu memadai untuk memantau perbatasan sepanjang hari.

Saat detikcom berkunjung ke Kabupaten Belu, perbatasan dengan Timor Leste, pada 29 Maret-3 April, Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) yang sedang bertugas adalah Batalyon Infanteri Raider 641/Beruang. Komandan Satgas Pamtas saat itu dijabat Letkol Inf Wisnu Herlambang. Dia menilai pemanfaatan teknologi memang sangat diperlukan untuk memantau perbatasan.

"Saran saya, kita gunakan teknologi, gunakan drone dan pesawat tanpa awak untuk memantau," kata Wisnu di Markas Sektor Timur, di Kecamatan Umanen, Belu, NTT, Sabtu (1/3/2017).

CCTV dan Drone Diperlukan untuk Pantau Perbatasan RI-Timor LestePasukan penjaga perbatasan RI-Timor Leste (Grandyos Zafna/detikcom)

Pemanfaatan mata kamera drone bakal membantu pengawasan arus orang dan barang di jalan-jalan tikus, di luar pos perbatasan yang resmi. Selain itu, perlu kamera CCTV yang bisa memantau setiap saat dinamika di tapal batas.

"Pakai CCTV, itu butuh biaya juga," kata Wisnu.

Sebagai penjaga perbatasan, dia menerima informasi dari Markas Besar TNI bahwa pada 2017 sudah ada anggaran pengadaan drone dan kamera CCTV untuk memantau kawasan terdepan Indonesia. Wisnu percaya pemasangan CCTV dan penggunaan drone bakal direalisasi pada masa personel Satgas Pamtas berikutnya pada tahun ini.

"Kalau sekarang baru ada CCTV di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Motaain, terkoneksi ke Mabes," tuturnya.

Jalan tikus ada di pinggir sungai, di semak-semak, hingga di pinggir laut perbatasan. Penyelundup memanfaatkan kelengahan petugas untuk bisa melancarkan estafet barang ilegal itu ke Timor Leste.

Jalan tikus yang kerap dipakai untuk menyelundupkan barang dari RI ke Timor LesteJalan tikus yang kerap dipakai untuk menyelundupkan barang dari RI ke Timor Leste. Jalan tikus di perbatasan Indonesia-Timor Leste juga berupa semak-semak dan pepohonan. (Danu Damarjati/detikcom)

Panjang perbatasan Indonesia-Timor Leste sektor timur merentang 149 km, meliputi Kabupaten Belu dan Kabupaten Malaka, berbatasan dengan Distrik Bobonaro, Timor Leste. Plus perbatasan 119 km di sektor barat, yakni yang masuk wilayah Kabupaten Kupang dan Timor Tengah Utara berhadapan dengan enklave Oecusse, Timor Leste.

Ada 43 pos perbatasan di sepanjang garis terdepan di Nusa Tenggara Timur. Korps Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Timur membawahkan 20 pos, dari Motaain di utara sampai Nanaenoe di selatan.


Kenyataannya, banyak jalan tikus yang tak terdata. Wakil Bupati Belu JT Ose Luan menyatakan ada banyak titik di luar pos resmi.

"Yang resmi di Turiskain dengan Motaain, tapi ada juga titik di Bilumil, Laktutus, Lakmaras, ada sekitar 70-an titik, tetapi belum bisa dijadikan titik penyeberangan atau titik arus barang," kata Ose Luan di kantornya.

Komoditas yang sering diselundupkan lewat jalan tikus adalah bahan bakar minyak (BBM). Perbedaan harga antara Indonesia dan Timor Leste menjadi faktor penarik penyelundupan ini. Apalagi, harga BBM Indonesia disubsidi pemerintah agar terjangkau kocek masyarakat. Sedangkan di Timor Leste, harga BBM dibeli dengan dolar Amerika Serikat.

Ikuti artikel-artikel Tapal Batas selengkapnya di tapalbatas.detik.com!
(dnu/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed