Agaknya dukungan kedua partai tersebut belum terlihat berpengaruh di putaran kedua. Sementara ini, berdasarkan real count KPU, persentase perolehan suara Ahok-Djarot tak jauh berbeda dengan putaran pertama, yakni 44% berbanding 42,96%.
"Ini, menurut saya, elite politik salah membaca konstituen dan pemilihnya. Saya lihat konstituen tak begitu sama dan tak mau menjatuhkan pilihannya ke Pak Ahok," ujar peneliti Media Survei Nasional (Median) Rico Marbun saat berbincang dengan detikcom, Rabu (19/4/2017) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di pilkada kita dilihatkan bahwa komunikasi buruk berakibat fatal ini, ketidaksukaan masyarakat jadi ditabrak begitu saja," ucap Rico.
Diwawancara terpisah, peneliti Populi Center Nona Evita menyampaikan hal senada. Nona lebih menyoroti soal konsolidasi elite parpol dengan akar rumput.
"Harusnya parpol bisa konsolidasi dengan akar rumput karena seperti PPP sempat terbelah, PPP DKI kalau nggak salah nggak dukung Ahok-Djarot. Itu saja nggak solid dan soliditas partai juga tingkat kepercayaan masyarakat, jadi partai juga harus berbenah lagi," kata Nona. (bag/imk)











































