Haryadi mengatakan tingginya antusiasme warga DKI dalam mencoblos menyebabkan terjadinya kekurangan surat suara di sejumlah tempat pemungutan suara (TPS). Namun kekurangan surat suara ini bisa diatasi.
"Tingkat antusiasme masyarakat memilih tampak tinggi. Itu sebabnya ada kehabisan surat suara. Oleh sebab itu, ini akan timbul masalah itu jika ketika dialihkan ke TPS terdekat dan habis juga surat suaranya. Karena pada dasarnya agak kerepotan jika itu terjadi," ujar Haryadi dalam jumpa pers di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (19/4/2017).
Catatan kedua adalah soal pengamanan yang dianggap baik. Setiap TPS dijaga personel Polri dan TNI.
"Putaran kedua ini tingkat emosinya lebih besar dibanding yang pertama. Emosional ini ternyata juga dirasakan hingga nasional, tidak hanya di Jakarta," ucap Haryadi.
"Pengerahan aparat secara nasional ini baru pertama terjadi selama pilkada. Namun kerawanan ini relatif bisa diatasi oleh aparat," tuturnya.
Catatan yang ketiga yang disampaikan adalah apresiasi kepada aparatur sipil negara (ASN) yang mampu menjaga netralitas. Proses pilkada kali ini dinilai relatif sesuai dengan harapan.
"ASN relatif sangat berhati-hati adanya pemihakan. Jika ada pun mereka saling mengingatkan dan menjaga netralitas yang baik. Proses berjalan relatif sesuai yang kita angankan, meskipun harus mengeluarkan energi yang lebih besar," ujar Haryadi. (lkw/fdn)











































