detikNews
Senin 17 April 2017, 17:39 WIB

Senyum Penderita Bibir Sumbing yang Tak Minder Lagi Bertemu Teman

Niken Widya Yunita - detikNews
Senyum Penderita Bibir Sumbing yang Tak Minder Lagi Bertemu Teman Foto: Dok. PT Berau Coal
Berau - Indah Haerunisa kini dapat tersenyum lebar. Penderita bibir sumbing itu kini tidak minder lagi bertemu dengan teman-temannya.

Saprudin, ayah Indah, berterima kasih atas kegiatan sosial operasi bibir sumbing untuk mengembalikan senyum anaknya. Saprudin, yang merupakan petani, sangatlah berat membawa anak pertamanya menjalani operasi bibir sumbing.

"Kami sekeluarga sangatlah bersyukur dengan adanya kegiatan ini. Karena dengan adanya kegiatan ini, bisa mengembalikan senyum anak kami dan tentunya membuat dia tidak minder lagi apabila bertemu dengan teman-temannya," kata Saprudin, Senin (17/4/2017).

Saprudin berharap ke depan kegiatan sosial tersebut bisa terus berlanjut setiap tahun. Dia meminta para penderita bibir sumbing dan celah langit-langit yang ada di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, bisa ikut serta dalam kegiatan selanjutnya.

"Kegiatan ini tentunya sangat membantu dan memberikan harapan bagi orang-orang seperti kami yang hanya bekerja sebagai petani maupun nelayan," ucap dia.

Dokter yang melakukan operasi, Shanice Marcella, mengatakan, berdasarkan data yang ada, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita bibir sumbing dan celah langit-langit cukup banyak di Asia.

Dokter lainnya, yakni Kiara Nikita van Trik, mengatakan bayi yang lahir dengan kelainan bibir sumbing dan celah langit-langit di Belanda langsung dioperasi setelah lahir.

"Sedangkan di sini saya lihat penderita bertahan hidup dengan kelainan itu hingga bertahun-tahun lamanya," ujar Kiara, yang berasal dari Belanda. Begitu juga Shanice.

Keduanya berharap kontribusi yang mereka berikan dapat membantu mengembalikan senyum indah setiap pasien.

Bupati Berau Muharram juga sangat mengapresiasi kegiatan sosial ini. Dia berterima kasih dan bersyukur kegiatan kegiatan tersebut bisa diadakan di Berau secara rutin.

"Karena apabila melihat biaya untuk melakukan operasi bibir sumbing ini, tidak semua orang mampu untuk melakukannya karena cukup mahal. Dengan kegiatan sosial ini, maka ada harapan bagi orang-orang tidak mampu dan menderita sumbing untuk bisa melakukan operasi," kata Muharram.

Hal yang sama diutarakan Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Berau Rustan Ambo Asse. Acara tersebut merupakan kerja sama dengan PDGI. Dia berharap kegiatan sosial yang dilaksanakan ini bisa terus berlanjutan.

"Keluarga pasien juga harus bisa men-support secara psikologis. Kepercayaan diri yang sebelumnya tidak ada di dalam diri pasien secara perlahan bisa keluar dan mengembalikan kepercayaan diri itu," tutur Rustan.

Kegiatan operasi gratis ini dilakukan PT Berau Coal (BC) melalui Yayasan Dharma Bakti Berau Coal (YDBBC). Acara ini bekerja sama dengan PDGI Berau, Badan Zakat Nasional (Baznas) Berau, pemerintah daerah, dan RSUD Abdul Rivai.

Acara bertajuk Berau Dentistry Social Care (BDSC) III 'International Collaboration Care' ini berlangsung di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Rivai pada 10-16 April 2017. Tujuan kegiatan tersebut adalah membantu serta membangkitkan semangat hidup serta kepercayaan diri penderita bibir sumbing dan celah langit-langit. Kegiatan ini dikhususkan bagi yang tidak mampu di Kabupaten Berau.

BDSC sudah ketiga kalinya dilaksanakan. Acara ini mendatangkan tim dokter gigi spesialis bedah mulut maksilofasial yang tergabung dalam Celebes Cleft Center (CCC). Dokter yang melaksanakan operasi ini berjumlah 20 orang dari Makassar dan dua dari Belanda, yakni Kiara Nikita van Trik dan Shanice Marcella Anthoinette van Stenus.

Tahapan pertama kegiatan BDSC III dimulai dengan medical check up (MCU). Dilanjutkan dengan pemeriksaan darah lengkap, thorax, dan lain-lain, kemudian screening terakhir yang dilakukan tim dokter bedah mulut.

Awalnya pasien berjumlah 28 orang. Namun yang memenuhi syarat operasi hanya 24 orang, yang terdiri atas 19 anak-anak dan 5 orang dewasa. Sedangkan 4 orang lainnya sedang sakit flu (batuk dan pilek) sehingga tidak memungkinkan untuk mengikuti operasi.
(nwy/ega)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com