'Belanda Juga Mau Minta Maaf'

'Belanda Juga Mau Minta Maaf'

- detikNews
Sabtu, 23 Apr 2005 16:08 WIB
Den Haag - Langkah Koizumi meminta maaf kepada bangsa-bangsa Asia atas masa lalu Jepang, seperti angin Timur menggasing kincir Negeri Belanda. Wacana maaf bergolak lagi.Media negeri bekas penjajah Indonesia tersebut hari ini, Sabtu (23/4/2005), ramai mengupas masalah yang meledak tiga tahun lalu: Belanda sudah selayaknya perlu meminta maaf kepada Indonesia. Ketika itu Belanda menggelar pesta nasional besar-besaran bertepatan dengan perayaan 400 tahun VOC, 20 Maret 1602-2002. Dubes RI untuk Belanda ketika itu, Abdul Irsan, menolak undangan Ratu untuk menghadiri seremoni di Ridderzaal bersama Ratu, pembesar Belanda, dunia usaha dan perwakilan negara lainnya. Alih-alih menghadiri pesta perayaan VOC, anak Madura yang kini menduduki pos di Jepang, itu pada saat bersamaan malah memenuhi undangan ke Hilversum (Senayan-nya Belanda) untuk wawancara tayang langsung di televisi dan radio. "Bagaimana saya bisa menghadiri perayaan VOC, sementara para korban VOC adalah rakyat bangsa saya? Sekiranya VOC diperingati secara utuh, antara kejayaan dan sisi kelamnya, lalu meminta maaf kepada bangsa saya, barangkali saya akan berpikir lain," kata Irsan di depan kamera. Irsan ketika itu menambahkan bahwa sikapnya itu soal prinsip dan menyangkut harga diri sebagai bangsa Indonesia. "Saya tidak perlu takut dipersona non gratakan," katanya. Namun bukannya diusir, dia sebaliknya malah dianugerahi Ratu Belanda dengan bintang kehormatan Ridder Grootkruis in de Orde van Oranje-Nassau atas jasa-jasanya meningkatkan hubungan kedua bangsa.Upayanya ketika itu untuk 'berdiri sejajar, menutup luka dan mengakui sejarah secara utuh, demi persahabatan erat ke depan tanpa beban' antara lain ditempuh dengan banyak mempertemukan masyarakat RI-Belanda dalam diskusi-diskusi terbuka."Kedua bangsa di permukaan memang terlihat erat bersahabat, namun di bawahnya masih ada ganjalan sensitif yang secara berkala cukup terasa," katanya. Momentum 1995Hasrat Ratu Belanda untuk meminta maaf kepada Indonesia sebenarnya sudah muncul pada 1995, menjelang kunjungan kenegaraan ke Indonesia. Namun Perdana Menteri Wim Kok saat itu mencegah rencana mulia tersebut, sebagaimana kembali diungkap De Volkskrant hari ini dengan mengutip Hans van der Voet, mantan kepala Rijksvoorlichtingsdienst (Dinas Penerangan Kerajaan). "Ratu Beatrix ingin menyampaikan permohonan maaf, namun PM ketika itu mencegah," beber Van der Voet.Pertimbangannya, langkah Ratu meminta maaf kepada Indonesia itu akan melukai perasaan para veteran Nederlands Indie. Selain itu Kok juga takut langkah itu akan menimbulkan guncangan di dalam negeri Belanda, seperti dituturkan mantan Menteri Kerjasama Pembangunan, Jan Pronk."Beatrix ingin menyampaikan permohonan maaf atas pelanggaran HAM di masa lalu, namun Kok takut langkah itu akan menimbulkan guncangan di dalam negeri," demikian Pronk, yang pernah dicekal presiden Soeharto gara-gara pernyataannya soal HAM dan korupsi yang berujung pada pembubaran IGGI.Momentum 1995 itu akhirnya menguap, hingga ramai lagi pada perayaan 400 Tahun VOC pada 2002. Namun, kata maaf dari Belanda itu tak kunjung datang. Ganjalannya tetap soal para veteran yang kini masih hidup di usia mereka yang uzur. Apalagi Pangeran Bernhard menjadi pelindung mereka. Jika Belanda meminta maaf, berarti Belanda mengakui aksi militer (veteran), terutama pada Agresi Militer I dan II, itu melanggar HAM. Ini pula yang konon membuat Belanda hanya mengakui Indonesia merdeka pada 27/12/1949 dan tidak mengakui proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.Kini momentum itu kembali muncul setelah dipelopori PM Jepang Koizumi. Sang pelindung veteran Belanda, Pangeran Bernhard, juga sudah meninggal. Pers Belanda pun kembali mengangkat isu ini menuju maaf-maafan. Mungkin dari pihak Indonesia juga perlu kembali ada desakan. Kalau adem ayem saja, gayung tak akan bersambut, dan momentum akan kembali menguap. (es/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads