"Ada hal yang paling penting dan perlu diperhatikan, sesuatu yang teknis yaitu neraca jam kerja. Di balik sebuah helikopter, mesin, jam, bahkan segelas air ada jam kerjanya yang menentukan kualitas dari apa yang dikerjakan," ucap Habibie di kantor PPATK, Jl Juanda, Jakarta Pusat, Senin (17/4/2017).
Menurutnya, sebuah negara tidak boleh terlalu bergantung pada kekayaan sumber daya alam yang dimiliki tetapi harus fokus dalam pengembangan sumber daya manusia yang ada.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Habibie bercerita ketika ia menjabat sebagai presiden setelah lengsernya pemerintahan Soeharto pada 1998. Dirinya mengakui tidak memiliki latar belakang politik maupun militer, saat itu, ia hanya berpegang teguh pada 3 poin penting dalam hidupnya.
"Hal pertama yang saya pegang dalam hidup saya adalah apapun pekerjaan yang dikerjakan harus berkualitas tinggi. Kedua hasil karya anda harus bisa menstabilkan, dan terakhir harus on schadule, apa yang dikerjakan dan apa saja hasilnya harus tepat," jelasnya.
"Kita butuh banyak orang yang bisa dijadikan tim untuk membuat suatu produk yang bisa diandalkan. Kita tidak bisa hanya mengandalkan sumber daya alam yang harganya ditentukan pasar, tapi produk berkualitas yang akan menstabilkannya," tambahnya.
Pada kesempatan itu, Habibie juga meminta pegawai PPATK tak hanya cakap pada pekerjaan tapi juga harus seimbang iman dan taqwanya. Karena pembangunan masa depan suatu negara akan lebih baik bila sesuai porsi dan transparansinya.
"Jadi saudara harus lihat bahwa kita harus menpersiapkan perusahaan-perusahaan di bumi Indonesia yang halal, yang baik bayar pajaknya, yang bisa dipantau gerakan uang di dalamnya, produk produknya bisa dipantau, predictable. Karena kualitas apa yang dikerjakan ditentukan juga pertanggung jawabannya pada Allah SWT," tutupnya. (adf/asp)











































