DetikNews
Minggu 16 Apr 2017, 16:46 WIB

Tapal Batas

4 Jam Perjalanan Sayur Tanpa Pupuk dari Lereng Gunung ke Atambua

Danu Damarjati - detikNews
4 Jam Perjalanan Sayur Tanpa Pupuk dari Lereng Gunung ke Atambua Suasana di Pasar Lolowa (Foto: Danu Damarjati/detikcom)
Atambua - Minggu (2/4/2017) pagi, satu sudut di Atambua ramai orang. Tenda-tenda terpal didirikan. Tawar-menawar terdengar di sana-sini. Ini Pasar Lolowa, 15 menit dari pusat kota daerah terdepan Indonesia.

Salah seorang mama telah selesai menggelar dagangan. Ada labu, wortel, daun bawang, kentang, kacang merah, jahe, dan sebagainya, sayur-mayur yang lumrah ditemui di pasar tradisional. Mama itu bernama Riceh Ani.


Dia menunjukkan kentang jualannya. Ukurannya kecil-kecil seperti bola bekel. "Kentang ini lebih enak. Kalau yang besar-besar itu dari Manggarai, pakai pupuk, tidak enak," kata Rinceh di pasar yang terletak di Kelurahan Lidak, Atambua Selatan, Kabupaten Belu ini.

Jadi kentang dan sayur mayur yang dijualnya ini disebutnya tidak pakai pupuk. Dia bilang, pemakaian pupuk yang berlebihan malah bisa merusak hasil kebun. Bukan hanya tidak pakai pupuk kimia, bahkan juga ada yang sama sekali tidak pakai pupuk kimia dan pupuk kandang. Ini adalah sayur-mayur organik.

"Kita pakai tanah subur, tidak pakai pupuk. Kalau pakai pupuk malah tidak bagus," kata Rinceh.

4 Jam Perjalanan Sayur Tanpa Pupuk dari Lereng Gunung ke AtambuaRinceh dan suami (Foto: Danu Damarjati/detikcom)
Di desanya, tanah sudah cukup subur untuk langsung diolah dan ditanami sayur mayur. Disebutnya, kebun-kebun di tempatnya memang miring-miring karena berada di pegunungan, namun kesuburannya sungguh terbukti. Desa dan kebunnya terletak di daerah yang sangat jauh.

"Saya dari Fatumnasi, Mollo Utara, Timor Tengah Selatan. Anda tahu Gunung Mutis? Saya tinggal dekat Gunung Mutis, sudah," kata Rinceh.

Gunung Mutis adalah gunung tertinggi di Nusa Tenggara Timor. Tingginya 2.427 meter. Kurang lebih jarak antara Mollo Utara ke Atambua adalah 150 km. Belum lagi ditambah jalan masuk ke desa-desa. Rinceh Ani dan suaminya, Martinus Banu (58) menempuh jarak itu setiap Minggu untuk berjualan di Pasar Lolowa ini.

4 Jam Perjalanan Sayur Tanpa Pupuk dari Lereng Gunung ke AtambuaFoto: Danu Damarjati/detikcom
Dari jam tiga dini hari, mereka sudah berangkat dari rumah membawa serta barang dagangan. Butuh empat jam perjalanan untuk sampai di Pasar. Jalan Trans Timor menurutnya sudah cukup oke. Namun untuk menuju desanya, kondisi jalanan sungguh tidak nyaman.

"Dari desa ke Soe (Ibu Kota Kabupaten Timor Tengah Selatan) jalannya rusak, omang-ambing terus," tuturnya.

Dia bilang, kondisi aspal menuju desanya sudah rusak. Terakhir diaspal seingatnya pada dekade '80-an. Setelah itu belum ada lagi perbaikan.

"Tahun lalu ada yang survei dari pemerintah, tapi sampai sekarang belum dibangun jalannya," tuturnya soal jalan ke desanya.

4 Jam Perjalanan Sayur Tanpa Pupuk dari Lereng Gunung ke AtambuaFoto: Danu Damarjati/detikcom
Dia menyewa pikap untuk berjualan ke sini. 10 Karung dagangannya dikenakan biaya Rp 200 ribu, ditambah dia dan istrinya sehingga total menjadi Rp 240 ribu untuk berangkat ke Pasar Lolowa ini. Untuk pulangnya, biaya menjadi lebih murah karena muatan berkurang, mereka membayar Rp 140 ribu.

Cukup mahal untuk sekadar biaya perjalanan. Kenapa tidak berdagang di pasar dekat rumahnya saja? Ada alasan yang dikemukakannya.

"Di sana hasil sayur-mayur terlalu banyak, jadi kita jualan untungnya kurang bagus, harga juga murah. Di sini, harga wortel bisa lima kali lipat, harga labu dua kali lipat, daun bawang dua kali lipat," tuturnya.

Dia hanya membayar uang Rp 4.000 per hari untuk jualan di Pasar Lolowa ini. Di sini, wortel dijualnya Rp 25 ribu per 1 kg. Labu dijual Rp 5.000 per empat buah, kentang Rp 10 ribu per setengah kg, daun bawang Rp 5.000 seikat. Keuntungan bersih, sudah dipotong biaya perjalanan dan tetek bengek, didapatnya Rp 2,5 juta per pekan dari pasar ini saja.

Toh perempuan kelahiran 1964 ini bukan hanya sekadar punya bisnis di lapak ini. Dia dan keluarga memang berkonsentrasi untuk bertani. Dia punya empat anak dan tiga cucu. Anak-anaknya juga berkebun.

Satu hektare kebun miliknya menghasilkan sayur mayur yang dijual tak hanya ke Pasar Lolowa. Dia juga punya langganan di Pasar Atambua dekat pusat kota, Kupang, hingga Pulau Rote.

"Semua diangkut menggunakan pikap," ujarnya.

Untuk berkomunikasi dengan anak-anaknya, para langganan, sampai sopir pikap, dia lakukan dengan menggunakan ponsel biasa.

"Saat keluar keluar kampung, oper hasil, bicara dengan langganan biar barang diambil, ya pakai hape. Telepon-telepon pakai Telkomsel," tuturnya.

Simak terus cerita-cerita dari kawasan terdepan Indonesia di Tapal Batas detikcom.
(dnu/tor)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed