Ketua MPR: Beda Suku dan Agama Tetap Harus Respect Satu Sama Lain

Ketua MPR: Beda Suku dan Agama Tetap Harus Respect Satu Sama Lain

Mustiana Lestari - detikNews
Sabtu, 15 Apr 2017 07:35 WIB
Ketua MPR: Beda Suku dan Agama Tetap Harus Respect Satu Sama Lain
Ketua MPR Zulkifli Hasan (Mustiana Lestari/kontributor)
Ternate - Semakin dekat dengan tanggal pencoblosan pada 19 April, semakin panas pula persaingan dua calon gubernur di DKI Jakarta. MPR mengajak semuanya mengingat jati diri bangsa yang majemuk.

"Soal pilkada sebenarnya kita sudah baik dan tidak ada masalah. Tahun lalu kita ada 260 pilkada lancar-lancar semuanya. Yang masalah cuma satu, di Jakarta saja," ujar Ketua MPR Zulkifli Hasan saat sosialisasi mengenai 4 Pilar di Ternate, Maluku Utara, Jumat (14/4/2017).

Zulkifli pun memaparkan akar masalah serta dampak yang terjadi pada Pilkada Jakarta. Ketua Umum PAN ini menjawab keresahan berbau SARA yang juga menjadi perhatian masyarakat Ternate.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang di Jakarta itu timbulkan demo sampai 7 juta orang, sampai ada yang diduga penista agama. Macam-macam di Jakarta ini. Gara-gara pilkada yang melampaui batas kemajemukan kita," ucap dia.

Menurut Zulkifli, saling menghormati adalah kunci untuk meredam masalah sosial yang ada di Pilkada Jakarta. Ini tentu juga menjadi pelajaran bagi provinsi lain yang menyelenggarakan pilkada.

"Ingat, kita berbagai agama, suku, dan budaya, jadi harus respek satu sama lain. Pilihan boleh berbeda, persatuan yang utama," tutur dia.

Dia pun berharap segala persoalan yang terjadi di Pilkada Jakarta segera berakhir. "Kalau Pilkada Jakarta selesai, kita harus merapatkan lagi persaudaraan. Bahaya kalau dipanasin gini, bisa tak terkendali, kalau gitu kita yang rugi," katanya.

Belakangan ini, MPR makin giat mengampenyakan 4 Pilar, yakni Pancasila, UUD 45, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Kali ini Zulkifli berkesempatan memaparkan nilai-nilai yang ada di 4 Pilar tersebut kepada ormas-ormas Islam di Maluku Utara, seperti Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRI), Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Badan Koordinasi Muballigh Indonesia (Bakomubin), dan Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT).

Tanggapi Penolakan FPI

Sejak kasus dugaan penistaan agama, Front Pembela Islam (FPI) menjadi pusat perhatian. Berbagai kontroversi pun menyertai ormas yang diketuai Habib Rizieq Syihab ini.

Terakhir, ceramah Habib Rizieq ditolak di Surabaya. Pembentukan FPI pun ikut ditolak di Semarang karena dinilai mengancam nilai Pancasila.

"Saya kira di negeri yang demokrasi, kita nggak bisa membenci kaum apa pun. Janganlah membenci satu kaum, siapa tahu kaum itu lebih baik dari kita. Jangan menyebar kebencian," kata Zulkifli.

Ketua Umum PAN ini menyarankan masyarakat yang menolak FPI bermusyawarah dengan aparat ataupun pihak FPI. "Kalau ada perbedaan pendapat, dialog. Jangan main hakim sendiri, tentu melanggar aturan," ujar Zulkifli.

Sebelumnya FPI berencana membuka cabang di Semarang, namun gagal karena penolakan sejumlah ormas. Suasana dialog sempat memanas meskipun ada polisi yang menengahi. Perdebatan yang alot membuat polisi terpaksa mengevakuasi anggota FPI ke mobil barakuda. (dnu/dnu)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads