Segera Berproduksi, Pabrik Semen Rembang Hormati Hasil Rapat di KSP

Segera Berproduksi, Pabrik Semen Rembang Hormati Hasil Rapat di KSP

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Jumat, 14 Apr 2017 14:43 WIB
Segera Berproduksi, Pabrik Semen Rembang Hormati Hasil Rapat di KSP
Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom
Rembang - Pabrik PT Semen Indonesia di Rembang akan segera berproduksi. Namun pihak perusahaan akan tetap menghormati hasil rapat di Kantor Staf Presiden (KSP), Rabu (12/4/2017) lalu. Kegiatan operasional yang bersifat komersial tersebut direncanakan akan dilakukan pada semester I tahun ini.

Direktur Utama PT Semen Indonesia Rizkan Chandra mengatakan, dari hasil rapat tersebut, tinggal masalah penambangan Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih. Dengan demikian, hasil tambang yang diolah akan menggunakan hasil di luar tambang Semen Indonesia sembari menunggu hasil akhir kajian untuk CAT Watuputih dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

"Semen Indonesia sudah boleh mulai beroperasi dengan bahan tidak boleh diambil dari penambangan sendiri. Bukan luar Rembang, tapi luar tambang Semen Indonesia," kata Rizkan kepada detikcom, Kamis (13/4).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Rizkan menjelaskan, terkait dengan tim Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), pihaknya mendukung kajian lanjutan yang lebih ilmiah, termasuk batasan fisiografi zona Kendeng, zona Randublatung, dan zona Rembang. Menurutnya, ada isu yang perlu diluruskan, salah satunya pabrik di Rembang berada di zona Rembang, bukan di zona Kendeng, seperti yang selama ini disebut.

"Ini akan kita ikuti lagi. Pemerintah juga ingin melihat aspek kehati-hatian.Tentu kita dukung. Kita berharap bisa dilakukan tidak dalam waktu lama. Sehingga kita bisa cepat melakukan pembangunan dan memberikan manfaat bagi masyarakat," tuturnya.

Segera Berproduksi, Pabrik Semen Rembang Hormati Hasil Rapat di KSPFoto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPR RI Edi Prabowo mengatakan saat ini tinggal satu pembuktian, yaitu terkait dengan CAT Watuputih, untuk penambangan. Ia berharap apa pun keputusannya nanti bisa berlaku untuk semua kegiatan penambangan, termasuk puluhan yang sudah berjalan sebelum adanya pabrik semen.

"Saya juga pertanyakan, standar dan syarat apa yang diberikan kepada BUMN juga berlaku pada swasta yang marak membangun semen," kata Edi saat berada di kawasan pabrik semen Rembang.

Baca juga: KSP dan KLHS soal Semen Rembang: Perlu Studi Lanjutan 6-12 Bulan

Ia juga mempertanyakan kenapa pendirian pabrik dan pengoperasian PT Semen Indonesia, yang merupakan BUMN, justru seolah sulit sekali, sedangkan tidak demikian dengan perusahaan swasta. Namun, sebagai negara demokrasi, jika ada satu orang saja yang berbeda pendapat, itu tetap harus diperhatikan.

"Kenapa pembangunan BUMN ditekan kelompok tertentu, kenapa kok kita seolah tidak memihak BUMN. Logikanya, negara harus bersama BUMN," tutur Edi.

"Aspirasi 1 orang di mana saja, pendidikannya apa pun, itu jadi aspirasi kita tetap dengar," katanya. (alg/rna)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini