Direktur Utama PT Semen Indonesia Rizkan Chandra mengatakan, dari hasil rapat tersebut, tinggal masalah penambangan Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih. Dengan demikian, hasil tambang yang diolah akan menggunakan hasil di luar tambang Semen Indonesia sembari menunggu hasil akhir kajian untuk CAT Watuputih dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
"Semen Indonesia sudah boleh mulai beroperasi dengan bahan tidak boleh diambil dari penambangan sendiri. Bukan luar Rembang, tapi luar tambang Semen Indonesia," kata Rizkan kepada detikcom, Kamis (13/4).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini akan kita ikuti lagi. Pemerintah juga ingin melihat aspek kehati-hatian.Tentu kita dukung. Kita berharap bisa dilakukan tidak dalam waktu lama. Sehingga kita bisa cepat melakukan pembangunan dan memberikan manfaat bagi masyarakat," tuturnya.
Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom |
"Saya juga pertanyakan, standar dan syarat apa yang diberikan kepada BUMN juga berlaku pada swasta yang marak membangun semen," kata Edi saat berada di kawasan pabrik semen Rembang.
Baca juga: KSP dan KLHS soal Semen Rembang: Perlu Studi Lanjutan 6-12 Bulan
Ia juga mempertanyakan kenapa pendirian pabrik dan pengoperasian PT Semen Indonesia, yang merupakan BUMN, justru seolah sulit sekali, sedangkan tidak demikian dengan perusahaan swasta. Namun, sebagai negara demokrasi, jika ada satu orang saja yang berbeda pendapat, itu tetap harus diperhatikan.
"Kenapa pembangunan BUMN ditekan kelompok tertentu, kenapa kok kita seolah tidak memihak BUMN. Logikanya, negara harus bersama BUMN," tutur Edi.
"Aspirasi 1 orang di mana saja, pendidikannya apa pun, itu jadi aspirasi kita tetap dengar," katanya. (alg/rna)











































Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikcom