Kasi Logistik Bidang Kedaruratan BPBD Aceh Tenggara, Yanti, mengatakan, rumah warga yang terletak di lokasi rendah dari jalan dipenuhi lumpur sisa banjir bandang hingga mencapai atap. Untuk membersihkannya, BPBD dibantu TNI/Polri dan relawan.
"Kita juga dibantu personel BKO dari Polda Aceh sebanyak 20 orang dan dari Polda Sumut 60 orang. Totalnya 60 personel BKO," kata Yanti saat dihubungi, Rabu (13/4/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Dok. Basarnas Kutacane. |
Perkampungan di 11 desa yang terkena dampak banjir dipenuhi lumpur, batu dan kayu-kayu beragam ukuran. Butuh banyak tenaga untuk membersihkannya.
"TNI/Polri sudah mengerahkan pasukannya untuk membantu kita membersihkan rumah warga," jelas Yanti.
Banjir bandang yang melanda pada Selasa (11/4) memasuki hari kedua. Warga sudah berada di tenda pengungsian yang dibangun di empat titik di dua kecamatan. Ada 2.476 warga yang harus mengungsi akibat rumah mereka belum dapat ditempati karena dipenuhi lumpur atau pun mengalami kerusakan.
BPBD setempat mulai membuka dapur umum untuk membantu korban. Seharusnya dapur umum bisa dibuka sejak kemarin. Namun akses menuju lokasi terputus.
"Kita sudah membuka dapur umum di empat titik tempat warga mengungsi," kata Yanti.
Banjir bandang Aceh Tenggara melanda 11 Desa. Di antaranya yaitu Desa Lawe Sigala-gala Barat, Batu Dua Ratus, Kayu Mbelin, Lawe Tua, Bukit Sepakat, Lawe Kesumpat, Lawe Rakat,Lawe Tua Persatuan Lawe Tua Gabungan. Desa ini terletak di Kecamatan Lawe Sigala-gala. Sementara dua desa lagi yakni Lawe Beringin dan Suka Makmur di Kecamatan Samadam.
Tenda pengungsian dibangun di empat titik di dua kecamatan. Daerah terparah diterjang banjir bandang yaitu Kecamatan Samadam. Berdasarkan data sementara, jumlah rumah rumah yaitu 176 unit rusak berat, 91 rumah rusak sedang, dan 139 rumah rusak ringan. Dua orang warga meninggal dunia setelah terseret banjir.
(fdn/fdn)












































Foto: Dok. Basarnas Kutacane.