DetikNews
Selasa 11 April 2017, 10:53 WIB

Novel Baswedan Diteror

Profil dan Kiprah Novel Baswedan Berantas Korupsi Kelas Kakap

Indah Mutiara Kami - detikNews
Profil dan Kiprah Novel Baswedan Berantas Korupsi Kelas Kakap Novel Baswedan / Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Teror terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan terjadi di tengah peran krusialnya dalam pemberantasan korupsi. Mantan perwira Polri berpangkat komisaris polisi ini merupakan salah satu penyidik bersinar yang memegang banyak kasus besar di KPK sejak pertama berkiprah.

Novel merupakan lulusan Akademi Kepolisian pada tahun 1998 dan kemudian mengawali karier di Polri. Novel bertugas di Bengkulu hingga tahun 2004 dengan jabatan terakhir sebagai Kasat Reskrim Polres Bengkulu.


Dia lalu ditarik ke Bareskrim Mabes Polri dan ditugaskan sebagai penyidik di KPK pada tahun 2007. Sejak saat itu, dia berkali-kali mendapatkan 'serangan' imbas pekerjaannya sebagai penyidik KPK.

Pertama kali nama Novel dibicarakan terjadi pada Oktober 2012. Malam itu, sejumlah anggota Polri mendatangi gedung KPK untuk menjemput Novel, yang belakangan diketahui sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penembakan terhadap pencuri sarang burung walet di Lampung pada 2004.

Penetapan tersangka itu dilakukan tak lama setelah Novel memimpin penggeledahan di Korlantas Polri. Novel kala itu merupakan Kepala Satgas kasus simulator SIM yang menjerat Irjen Djoko Susilo, yang saat itu menjabat Kakorlantas. Novel membantah memerintahkan penembakan terhadap pencuri sarang burung walet.

Pada Februari 2016, Novel terbebas dari kasus pidana yang menjeratnya lantaran tidak cukup bukti. Kejaksaan Agung menerbitkan surat keputusan penghentian penuntutan (SKPP) atas dugaan menganiaya seorang pencuri sarang burung walet hingga tewas pada 2004.

Novel tetap memegang kasus-kasus besar hingga sekarang. Salah satunya adalah kasus korupsi e-KTP di mana dia disebut menekan saksi Miryam S Haryani. Novel membantah melakukan penekanan dan sudah dikonfrontir di pengadilan.

Setelah sejumlah serangan dari pihak eksternal, Novel juga berurusan dengan pihak internal KPK. Novel, yang merupakan kepala wadah pegawai KPK, mendapatkan surat peringatan (SP) 2 dari pimpinan KPK karena dianggap menghambat penyidikan. Pada akhirnya, SP 2 terhadap Novel dicabut oleh pimpinan KPK.
(imk/fjp)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed