Ibunda Riski, Mutiah (50), mengatakan baru tahu kabar anaknya terlibat dalam penyerangan polisi di Tuban pada Sabtu (8/4) lalu, ketika polisi datang dini hari tadi. Setahu Mutiah, sehari sebelumnya Riski pamit melamar kerja.
"Pergi hari Jumat kemarin. Izinnya mau melamar kerja, naik motor. Tahu-tahu sore jam 19.00 WIB motornya dikembalikan temannya ke sini. Saya tanya temannya, dia tidak tahu anak saya ke mana. (Riski) pergi katanya," kata Mutiah saat ditemui detikcom di rumahnya, Jalan Kerapu II RT 9 RW 2 Kelurahan Kuningan, Semarang Utara, Senin (10/4/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sempat telepon, nyambung tapi tidak diangkat. Saya SMS, dia bilang, 'Aku jek wisata, Bu' (aku masih berwisata, Bu)," tandasnya.
Hari Sabtu dan Minggu tidak ada kabar dari anaknya. Kemudian dini hari tadi, sekitar pukul 00.00 WIB, sekitar 20 polisi datang melakukan penggeledahan dan memberikan informasi terkait kondisi anaknya. Mutiah sempat khawatir dan meminta suaminya, Edi Surpianto, menemui para polisi.
"Malam tadi saya dapat kabar, jam 12 malam. Ada 20-an orang datang ke sini. Periksa-periksa, manjat. Suami yang menemui, saya lemas, gemetaran," katanya.
Suami Mutiah berangkat ke Surabaya untuk memastikan apakah benar terduga teroris Tuban yang dilumpuhkan Densus 88 adalah anaknya. Ternyata, setelah dicocokkan, semua ciri-ciri menegaskan salah satu jenazah memang Riski.
Rencananya, jika jenazah bisa dibawa pulang secepatnya, pemakaman akan dilakukan hari Selasa (11/4) besok di pemakaman daerah Kali Asin. (sip/sip)











































