Ahok mengatakan mengembangkan seni tidak segampang yang orang-orang lihat. Menurut Ahok, saat menjabat Gubernur DKI Jakarta, dia pernah merasa bingung mengapa tidak pernah ada musisi dari Jakarta yang dikirim ke luar negeri. Pada saat itu, Ahok baru tahu bahwa uang untuk musisi ke luar negeri tidak pernah dianggarkan dalam APBD.
"Kalau begitu, selamanya nggak akan ada yang ke luar negeri. Makanya kami ubah, kami taruh sekarang anggarannya di bawah Sekda. Kalau kita cek event bagus, kita buat seniman itu selayaknya PNS. Jadi (musisi) yang berangkat ada akomodasi dan lainnya," kata Ahok dalam acara Blak-blakan Cagub & Cawagub DKI di markas detikcom, Jalan Warung Buncit, Jakarta Selatan, Senin (10/4/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena itu, Ahok mengganti cara untuk pembinaan seniman di Jakarta. Dia mengatakan, untuk pembinaan, akan diberikan kepada klub. Menurutnya, klub merupakan asal dari musisi berprestasi.
"Kita mau hibah, kayak olahraga. Siapa juara Olimpiade, kita kasih Rp 5 miliar bonusnya. Kita kasih juga uang pembinaan Rp 1-2 miliar setahun. Kita sudah ketemu formulanya," ujar Ahok.
Ahok sendiri mengaku, untuk menggelar konser musik, dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Bahkan sponsor di Indonesia hanya mampu mengadakan konser satu-dua kali setahun. Ahok mengatakan dia sudah menemukan formula untuk membantu para seniman.
"Formulanya, kita gelondongan tiket nonton. Setengah tiket kita beli. Kita tanggung jawabnya gampang. Kayak konsep ngaspal. Taruh saja berapa kubik ton kita beli. Kalau mau aspal, kita kirim ukur. Pola ini yang kita lakukan. Begitu juga seni," tutur Ahok. (bis/elz)











































