"Beliau (Nadir) ini ke Turki dan Lebanon membawa misi kemanusiaan, dipercaya beberapa pihak untuk menyalurkan bantuan untuk pengungsi anak-anak di Turki dan Lebanon," kata Aboebakar saat menggelar konferensi pers di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (10/4/2017).
Menurutnya, pemberian bantuan ini adalah wajar, sesuai dengan Pancasila dan pembukaan UUD 1945. Aboe Bakar menjelaskan, tidak ada masalah saat Nadir masuk ke Turki. Namun, persoalan terjadi saat dia hendak masuk ke Lebanon.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Nadir diamankan Densus 88 di Terminal 2 Bandara Juanda sepulang dari Kuala Lumpur dengan menumpang maskapai AirAsia XT 327 pada Sabtu (8/4) sore. PKS lalu membentuk tim untuk melakukan tindak lanjut atas penjemputan kadernya itu.
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar menegaskan bahwa Densus 88 Antiteror tidak melakukan penangkapan terhadap Nadir, melainkan penjemputan. "Densus tidak pernah lakukan penangkapan," ujar Boy di lokasi yang sama.
Selain Nadir, Densus juga menjemput satu WNI bernama Budi Mastur. Budi Mastur adalah pria yang aktif di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Forum Dakwah Nusantara (FDN).
Bersama Nadir Umar, dia masuk ke wilayah Suriah dengan menggunakan alasan aktivitas misi kemanusiaan. Mereka berdua adalah relawan Yayasan Qouri Umah. Mereka hendak menyalurkan bantuan sebesar USD 20 ribu untuk para pengungsi Suriah. (brt/idh)











































