"Saya kan dorong para dosen mempublikasikan, kalau bisa dilakukan itu akan meningkatkan. Sekarang problemnya banyak dosen belum publikasi. Banyak karya yang mereka miliki tapi nggak bisa mempublikasikan. Atau enggan mempublikasikan. Ini akan menjadi masalah," kata Menteri Nasir di hadapan pimpinan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) se-Bali di Badung, Senin (10/4/2017).
Nasir mengatakan ada anggapan di antara para dosen atau periset bahwa publikasi ilmiah di jurnal internasional biayanya mahal. Padahal Nasir menegaskan kementerian memberikan insentif bantuan bagi pengembangan riset ilmiah tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Insentif riset tersebut menurutnya sebagai rangsangan agar peneliti dan dosen di Indonesia dapat mempublikasikan jurnal ilmiahnya. Berapapun biayanya, Nasir mengatakan pemerintah akan mendukung.
"Problemnya di riset selama ini para dosen kalau meneliti pertanggungjawabannya berat sekali. Berapa biaya perjalanan dinas, biaya berapa ATK, ini dan itu. Udahlah nggak usah pikir itu. Publikasinya internasional beri sekian. Kalau katakan Rp 100 juta, Rp 50 juta atau berapa. Kalau nasional berapa. Ini harus kita pikirin. Internasional berapa yang prototipe berapa, yang inovasi berapa," ucap Nasir menegaskan.
Untuk mendukung ini, Kemenristek Dikti bahkan sudah berbicara dengan Kementerian Keuangan Sri Mulyani. Pos anggaran riset dan pengembangan per 1 Januari 2017 sudah disiapkan untuk para dosen dan peneliti.
Oleh sebab itu, Nasir mengatakan bahwa dengan dibuatnya Sinta (Science and Technology Index) diharapkan para dosen dan peneliti mempublikasikan karya ilmiahnya. Dalam waktu dekat ia juga mengatakan Sinta akan diakreditasi secara internasional.
"Ini kita buat di Indonesia. Semua jurnal publikasi ini saya suruh masuk ke situ dulu. Nanti 1 tahun atau 2 tahun ke depan saya akan akreditasikan di internasional. Kalau masuk nggak usah kirim ke luar negeri," paparnya.
Nasir juga menginformasikan bahwa saat ini sebetulnya dorongan untuk anggaran riset banyak datang dari luar negeri. Inggris dan Prancis banyak memberikan peluang bantuan untuk mendukung program ilmiah. Belum lagi saat ini dirinya sedang mengupayakan kerjasama riset dengan Arab Saudi usai kedatangan Raja Salman beberapa waktu lalu.
"Sehingga perguruan tinggi khusunya yang puya guru besar wajib melakukan penelitian. Dosen supaya ke depan makin baik. Guru besar ini harus sustainability-nya jalan," kata Nasir. (bri/tor)











































