"Liberalisme ini, sadar tidak sadar, Indonesia semenjak 1998 pelan-pelan mengadopsi demokrasi liberal versi Barat. Sedangkan demokrasi Pancasila, ironisnya, sudah mulai pelan-pelan meredup. Kita lihat banyak sekolah yang tidak memperkenalkan konsep-konsep ini," ujar Tito saat menjadi pembicara dalam acara seminar dan lokakarya 'Indonesia di Persimpangan Negara Pancasila Vs Negara Agama' di Hotel Aryaduta, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (8/4/2017).
Tito menyayangkan hal tersebut. Menurut dia, para pemuda pejuang bangsa telah berupaya menjaga keutuhan Pancasila lewat Sumpah Pemuda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tito juga membahas kebinekaan yang dideklarasikan pendiri bangsa. Menurutnya, para pendiri bangsa telah paham bahwa perbedaan akan jadi faktor pemecah bangsa.
"Tahun 1945 terkenal dengan konsep Bhinneka Tunggal Ika. Artinya para pendiri bangsa sudah memahami adanya perbedaan, tapi dinafikan dan membuat satu kepentingan bersama, yaitu bangsa," terangnya. (irm/try)











































