Kembalinya Pusaka dari RI ke Timor Leste Lewat Jembatan Air Mata

Tapal Batas

Kembalinya Pusaka dari RI ke Timor Leste Lewat Jembatan Air Mata

Danu Damarjati - detikNews
Sabtu, 08 Apr 2017 10:16 WIB
Kembalinya Pusaka dari RI ke Timor Leste Lewat Jembatan Air Mata
Foto: Danu Damarjati/detikcom
Atambua -


Tangis haru pecah di atas Jembatan Air Mata yang menghubungkan Indonesia dengan Timor Leste. Ratusan orang larut dalam suasana peristiwa budaya yang langka.

Peristiwa ini telah ditunggu-tunggu sejak 1999, saat gejolak referendum menyeruak dan menghasilkan kemerdekaan bagi Timor Leste. Karena dinamika politik itu, tempat hidup suku Paslara dan suku Daulelo menjadi terbelah.

Kembalinya Pusaka dari RI ke Timor Leste Lewat Jembatan Air MataFoto: Danu Damarjati/detikcom
Tempat pertama adalah Desa Aidabaleten dan Desa Rairobo, Arabae, Maliana, Timor Leste. Tempat kedua adalah Desa Kenebibi, Atapupu, Belu, Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena situasi tidak kondusif saat itu, pusaka yang berada di Timor Leste (dulu bernama Provinsi Timor Timur) diungsikan terlebih dulu ke Indonesia. Pusaka-pusaka itu dijaga dan bakal kembali ke tempatnya bila situasi sudah kondusif.

Kembalinya Pusaka dari RI ke Timor Leste Lewat Jembatan Air MataFoto: Danu Damarjati/detikcom
Akhirnya, setelah 18 tahun berlalu, pusaka itu dikembalikan. Jembatan Air Mata menjadi panggungnya. Jembatan ini dinamakan demikian karena saat pemisahan kedua negara, kerabat-kerabat yang terpisah berpelukan, bertemu, menangis, dan mengucap perpisahan di titik ini, di antara Indonesia dan Timor Leste, tepatnya di depan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Motaain, Belu, NTT.

Kembalinya Pusaka dari RI ke Timor Leste Lewat Jembatan Air MataFoto: Jembatan Air Mata/Danu Damarjati
Satu ujung pagar dicat merah-putih, sedangkan ujung lainnya dicat merah-kuning-hitam. Di bawahnya ada anak Sungai Malibaka, yang airnya mengalir ke laut.

Disaksikan detikcom pada Sabtu (1/4/2017) di lokasi, di atas jembatan sisi merah-putih ada 10 pria mengenakan kain tais. Mereka membawa satu pedang, tiga tiang bendera, dua genderang senar, dan dua trompet kuningan. Salah satu dari tiga tiang bendera itu dipasangi bendera Merah-Putih. Pedang, tiang bendera, genderang senar, dan trompet itu adalah pusaka yang akan dipulangkan.

Kembalinya Pusaka dari RI ke Timor Leste Lewat Jembatan Air MataFoto: Danu Damarjati/detikcom
Di sisi jembatan bercat merah-kuning-hitam, pihak dari Timor Leste sudah siap menerima pusaka itu. Ada empat orang, terdiri atas tiga pria paruh baya dan satu perempuan. Semuanya mengenakan kain tais, dilengkapi dengan penutup kepala batik yang dikenakan tiga pria itu.

Kembalinya Pusaka dari RI ke Timor Leste Lewat Jembatan Air MataFoto: Danu Damarjati/detikcom
Matahari tepat berada di atas kepala. Acara ini dimulai. Drum ditabuh. Orang-orang menjadi semakin banyak. Mobil-mobil berpelat putih khas Timor Leste yang hendak masuk ke PLBN Motaain harus menunggu sejenak sampai acara sakral ini selesai digelar.

Doru Vicente (41) memimpin upacara pengembalian pusaka ini. Dia sendiri adalah anggota suku Daulelo. Doru memimpin penghormatan kepada Merah-Putih. Komandonya dipatuhi semua orang di lokasi.

Kembalinya Pusaka dari RI ke Timor Leste Lewat Jembatan Air MataFoto: Danu Damarjati/detikcom
Setelah penghormatan selesai, Sang Saka Merah Putih dilucuti dari tiang itu. Bendera dilipat, dimasukkan ke kotak kayu ukuran sekitar 50 x 20 cm. Kemudian tiang bendera itu diserahkan ke pihak saudara suku yang berada di Timor Leste, disusul penyerahan dua tiang bendera lainnya, satu pedang, dua genderang senar, dan dua trompet.

Pusaka telah berpindah tangan. Dengan cekatan, bendera Timor Leste dipasang di tiang kayu setinggi 2 meter itu. Terlihat, ujung tiang bendera itu punya semacam mata tombak kuningan. Mata tombak itu bergambar Garuda Pancasila.

Kembalinya Pusaka dari RI ke Timor Leste Lewat Jembatan Air MataFoto: Danu Damarjati/detikcom
Dua tiang bendera lainnya berukuran jauh lebih panjang, tingginya lebih dari 3 meter. Ada yang mempunyai mata tombak dan ada yang tidak. Adapun dua genderang senar itu juga ikut dipulangkan ke anggota suku yang bermukim di Timor Leste. Genderang itu berwarna merah, besi-besinya sudah kusam, menandakan usia benda ini. Di bagian depannya ada tulisan kecil "Buatan Yogyakarta Indonesia".

Kembalinya Pusaka dari RI ke Timor Leste Lewat Jembatan Air MataFoto: Danu Damarjati/detikcom
Lengkap sudah, semua pusaka sudah berpindah tangan. Orang-orang di lokasi kemudian bersorak. Masyarakat yang terpisah oleh batas negara ini kemudian bersalaman, berpelukan, dan saling menempelkan hidung sebagai wujud keakraban mereka.

Kembalinya Pusaka dari RI ke Timor Leste Lewat Jembatan Air MataFoto: Danu Damarjati/detikcom
Keharuan sepertinya sudah tak bisa ditahan dari wajah-wajah mereka. Sejumlah orang dari kedua belah pihak saudara ini terlihat menyeka pipi dengan kain. Air mata menetes bercampur senyum persaudaraan.

"Obrigado!" kata seorang prajurit TNI penjaga perbatasan, sambil mengacungkan jempol, melepas kepulangan rombongan Timor Leste.

Kembalinya Pusaka dari RI ke Timor Leste Lewat Jembatan Air MataFoto: Danu Damarjati/detikcom
Rombongan Timor Leste berjalan menuju Pos Perbatasan Terpadu Batugade Bobonaro, Timor Leste. Sebelum sampai jembatan dekat laut, mereka membungkus mata tiang bendera yang terukir lambang Garuda Pancasila. Kain batik kecil digunakan untuk menyelubungi mata pusaka ini.

Ikuti serial tulisan mengenai perbatasan Indonesia di Tapal Batas.

(dnu/fjp)


Berita Terkait