Penelitian ini dilakukan dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Laboratorium Arkeologi Universitas Hasanuddin, Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulsel. Selain itu ada juga peneliti evolusi manusia dari beberapa kampus di Australia, seperti Griffith University, Wollonggong University dan Australian National University (ANU).
![]() |
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mubarak Andi Pampang, arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulsel, mengatakan tim juga menemukan benda-benda seni yang terbuat dari batu yang diukir dan bisa dibawa ke mana-mana oleh manusia purba. Selain itu juga ditemukan banyak kapak batu, dan tulang-belulang mega fauna, seperti tulang Anoa dan Babi Rusa di jaman pleistosen akhir. Penemuan itu berada di sekitar lokasi eskavasi di Leang Bulu Bettue.
"Para peneliti dalam tim ekskavasi di Leang Bulu Bettue meyakini adanya unsur modifikasi atau pelubangan tulang jari beruang kuskus dijadikan perhiasan oleh manusia purba, kami menyebutnya "Perhiasan dari Bettue", selain itu ada koneksi paralel dengan temuan bahan pewarna dari mineral atau hematit, yang digunakan manusia purba untuk melukis di dinding gua, yang usianya diperkirakan 17 hingga 40 ribu tahun lalu," ujar Mubarak saat diwawancara detikcom Jumat (7/4/2017).
Penelitian terkait perhiasan tertua di Indonesia ini dipublikasikan dalam jurnal yang berjudul "Early human symbolic behavior in the Late Pleistocene of Wallacea" yang dipublikasikan di situs Proceedings of The National Academy of Sciences of The United States of America (PNAS), pnas.org, yang diterbitkan pada 3 April kemarin.
(mna/rvk)