DetikNews
Jumat 07 Apr 2017, 17:40 WIB

Tapal Batas

Peluang Ekonomi Warga Perbatasan di Balik Kemegahan PLBN Motaain

Danu Damarjati - detikNews
Peluang Ekonomi Warga Perbatasan di Balik Kemegahan PLBN Motaain Foto: Danu Damarjati/detikcom
Atambua - Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Terpadu Motaain memang berdiri megah di hadapan Timor Leste. Namun nilai PLBN tak boleh berhenti di taraf impresi mata saja, melainkan perlu lebih dari itu. PLBN Motaain harus bisa 'menghidupi' masyarakat Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.

Tentu saja 'menghidupi' di sini bukan bermakna memberi nafkah secara langsung kepada warga terdepan, melainkan bisa memberi peluang hidup usaha-usaha ekonomi warga setempat. Ketiadaan pungutan liar (pungli) juga bakal mempermudah warga setempat untuk berbisnis melintas batas negara meraup untung dari tanah Timor Lorosae.

Koordinator PLBN Terpadu Motaain, Jemi Boy Kotta, menjelaskan komoditas impor dari Timor Leste biasanya berupa kopra dan kopi. Namun komoditas ekspor dari Indonesia ke Timor Leste justru jauh lebih banyak.

"Mereka (Timor Leste) masih bergantung dengan bahan-bahan pokok dari Indonesia," kata Boy kepada detikcom, Rabu (5/4/2017).

Peluang Ekonomi Warga Perbatasan di Balik Kemegahan PLBN MotaainFoto: Grandyos Zafna

Komoditas dari Indonesia ke Timor Leste berupa sembilan bahan pokok, mi instan, hingga air minum dalam kemasan. Boy melihat hegemoni Merah Putih ini harus dimanfaatkan masyarakat setempat.

"Ini peluang kita. Saya sampaikan ke orang-orang dari desa sekitar sini, kalau bisa masyarakat digiatkan berbisnis air minum isi ulang," ujarnya.

Air minum isi ulang cuma salah satu contoh saja. Peluang bisnis lain bisa dieksplorasi. Namun yang jelas menurut dia, kebutuhan air minum di Timor Leste kawasan perbatasan memang menuntut asupan dari Indonesia.

Misalnya di daerah Batugede Timor Leste, masyarakat di sana biasa melintasi PLBN menggunakan sepeda motor untuk sekadar mengisi air galon di Belu Indonesia. Begitu juga di daerah Maliana Timor Leste, masyarakat Indonesia juga bisa menyibak peluang bisnis di tempat itu.

"Sehingga masyarakat kita bisa meningkat secara ekonomi. Jangan hanya PLBN-nya saja yang megah, tapi juga masyarakatnya harus meningkat ekonominya," ujar Boy.

Peluang Ekonomi Warga Perbatasan di Balik Kemegahan PLBN MotaainFoto: Grandyos Zafna

Untuk arus orang yang melintasi PLBN Motaain, Boy mengatakan angkanya berkisar rata-rata 400 orang per hari. Antara yang datang dari Timor Leste dan yang berangkat dari Indonesia jumlahnya relatif seimbang.

Supervisor Tempat Pemeriksaan Imigrasi PLBN Motaain, Silvester Donna Making, menjelaskan hari Minggu dan Senin adalah hari yang sepi pelintas. Soalnya, Minggu digunakan warga perbatasan untuk beribadah di gereja dan istirahat, dan Senin digunakan untuk memulai aktivitas di tempat masing-masing.

Puncak pelintas batas terjadi pada hari libur panjang atau hari raya Umat Kristiani, misalnya Paskah atau Natal.

Kepala Bagian Humas dan Protokol Kabupaten Belu, Fridolinus Siriben, menjelaskan komoditas asli Kabupaten Belu yang dikirim ke Timor Leste juga mencakup hasil bumi.

"Bawang tuktut, bawang merah. Ada pula kacang hijau, kacang tanah, jangung. Namun komoditas ekspor belum terlalu banyak," kata Frido.

Ekspor hasil bumi belum masif karena iklim dan topografi daerah Timor Leste tak jauh berbeda dengan Belu, sehingga hasil bumi kedua kawasan juga tak jauh berbeda. Namun ada upaya agar ekspor hasil bumi meningkat di waktu-waktu selanjutnya.

"Upayanya adalah perluasan penanaman, menanam di luar musim. Tapi kita juga punya kendala, yakni ketersediaan air," kata Frido.

FridoFridolinus Siriben. (Danu Damarjati/detikcom)

Sebenarnya barang-barang ekspor dari Indonesia ke Timor Leste yang melintasi PLBN Motaain juga tak melulu dari Belu. Tak masalah, komoditas dari luar Belu yang melintas dan diekspor ke Timor Leste itu juga memberi keuntungan. PAD Kabupaten Belu pada 2016 sebesar Rp 20 miliar, arus barang juga berkontribusi di situ.

"Barang ekspor manapun harus singgah ke sini, dan menyumbang PAD. Misalnya barang-barang dari Surabaya mau ke Timor Leste, harus singgah di Belu dulu," kata Frido.

Dia menjelaskan, impor dari Timor Leste kebanyakan masih dalam skala kecil. Misalnya jenis-jenis minuman, sosis yang diimpor dari negara lain dan diekspor ke Indonesia. "Tapi mereka belum dalam jumlah besar," ujar Frido.

Peluang Ekonomi Warga Perbatasan di Balik Kemegahan PLBN MotaainFoto: Grandyos Zafna

Sebelumnya diberitakan, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mendorong agar komoditas pangan dari NTT bisa dijual ke Timor Leste. Jagung, kacang, dan bawang merah dari kawasan ini punya area tanam 75.000 hektare. Amran bahkan berambisi menghidupi Republik Demokratik Timor Leste dengan gelontoran bahan pangan dari Indonesia, dalam bentuk barang dagangan tentunya.

"Ini kan ada satu juta orang lebih di 'sebelah', kita yang harus hidupi," ujar Amran di PLBN Motaain, 15 Maret lalu.

Presiden Jokowi mendukung langkah hegemonik memenuhi lapak-lapak 'tetangga' dengan barang-barang Merah Putih. Ini berlaku untuk semua kawasan terdepan Indonesia.

"Dorong semuanya untuk ekspor," perintah Jokowi di PLBN Aruk, Sambas, pada 17 Maret lalu.
(dnu/tor)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed