"Meski disampaikan secara satire dan penuh gelak tawa, prinsipnya seorang hakim haruslah profesional dan berintegritas," kata Alexander di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (6/4/2017) malam.
'Hakim Sarmin' adalah sebuah karya sastra dari Agus Noor. Pentas dimulai pukul 20.00 WIB dan berakhir menjelang pukul 23.00 WIB. Sebagai mantan hakim, Alexander mengajak para hakim untuk meningkatkan kapasitasnya.
![]() |
"Selain menguasai kaidah hukum yang menjadi pedoman beracara di persidangan, hakim harus mampu menggali rasa keadilan yang berkembang di masyarakat. Dengan demikian, putusan hakim menjadi hukum yang hidup yang mengikuti dinamika masyarakat," ujar Alex.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Digawangi pemain teater kawakan Butet Kertaradjasa sebagai hakim Sarmin dan Djaduk Ferianto selaku pimpinan kota, lakon itu mengisahkan sebuah zaman ketika keadilan dan kegilaan tak lagi bisa dibedakan.
'Hakim Sarmin' dipentaskan dengan latar belakang suasana yang ganjil, di mana semua hakim memilih rehabilitasi di rumah sakit jiwa oleh Dokter Menawi Diparani. Dokter itu mendiagnosis sebuah wabah kegilaan berbahaya.
Wabah itu menyerang para hakim, sehingga tidak dapat membedakan kepentingan politik, ambisi kekuasaan, dan siasat licik di antara legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Sedangkan para hakim yang tidak mau rehabilitasi mati terbunuh.
![]() |
Melihat kritik-kritik dalam pentas itu, Alexander punya pesan khusus ke dunia peradilan.
"Makanya jadi hakim harus pintar dan cerdas. Sayangnya, banyak lulusan fakultas hukum dari universitas ternama jarang yang mau jadi hakim atau aparat penegak hukum," ujar Alex. (asp/rvk)












































