Ikut Nonton 'Hakim Sarmin', Wakil Ketua KPK: Jadi Hakim Harus Cerdas

Ikut Nonton 'Hakim Sarmin', Wakil Ketua KPK: Jadi Hakim Harus Cerdas

Andi Saputra - detikNews
Jumat, 07 Apr 2017 13:23 WIB
Ikut Nonton Hakim Sarmin, Wakil Ketua KPK: Jadi Hakim Harus Cerdas
Teater Gandrik dalam lakon 'Hakim Sarmin' (foto-foto: Andi Saputra/detikcom)
Jakarta - Di sela-sela kesibukannya menyidik, Wakil Ketua KPK Alexander Marwata meluangkan waktunya menonton Teater Gandrik. Lakon berjudul 'Hakim Sarmin' menjadi cerminan bagi hakim Indonesia untuk bersikap profesional dan cerdas.

"Meski disampaikan secara satire dan penuh gelak tawa, prinsipnya seorang hakim haruslah profesional dan berintegritas," kata Alexander di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (6/4/2017) malam.

'Hakim Sarmin' adalah sebuah karya sastra dari Agus Noor. Pentas dimulai pukul 20.00 WIB dan berakhir menjelang pukul 23.00 WIB. Sebagai mantan hakim, Alexander mengajak para hakim untuk meningkatkan kapasitasnya.
Ikut Nonton Hakim Sarmin, Wakil Ketua KPK: Jadi Hakim Harus Cerdas

"Selain menguasai kaidah hukum yang menjadi pedoman beracara di persidangan, hakim harus mampu menggali rasa keadilan yang berkembang di masyarakat. Dengan demikian, putusan hakim menjadi hukum yang hidup yang mengikuti dinamika masyarakat," ujar Alex.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tampak terlihat menonton antara lain hakim agung Syamsul Maarif, Menlu Retno Marsudi, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Wakil Ketua Komisi Yudisial (KY) Sukma Violetta, komisioner KY Farid Wajdi, hingga artis Titiek Puspa. Mereka tidak meninggalkan tempat duduknya sedetik pun selama pertunjukan hampir tiga jam itu.

Digawangi pemain teater kawakan Butet Kertaradjasa sebagai hakim Sarmin dan Djaduk Ferianto selaku pimpinan kota, lakon itu mengisahkan sebuah zaman ketika keadilan dan kegilaan tak lagi bisa dibedakan.

'Hakim Sarmin' dipentaskan dengan latar belakang suasana yang ganjil, di mana semua hakim memilih rehabilitasi di rumah sakit jiwa oleh Dokter Menawi Diparani. Dokter itu mendiagnosis sebuah wabah kegilaan berbahaya.

Wabah itu menyerang para hakim, sehingga tidak dapat membedakan kepentingan politik, ambisi kekuasaan, dan siasat licik di antara legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Sedangkan para hakim yang tidak mau rehabilitasi mati terbunuh.
Ikut Nonton Hakim Sarmin, Wakil Ketua KPK: Jadi Hakim Harus Cerdas

Melihat kritik-kritik dalam pentas itu, Alexander punya pesan khusus ke dunia peradilan.

"Makanya jadi hakim harus pintar dan cerdas. Sayangnya, banyak lulusan fakultas hukum dari universitas ternama jarang yang mau jadi hakim atau aparat penegak hukum," ujar Alex. (asp/rvk)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini